BACA SCYLLA'S WAY DULU YA
***
Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Napas saling beradu, dada bergerak naik dan turun. Arienne meneriaki kakaknya ketika perahu mereka hancur. Sembari menoleh kanan dan kiri, memproses apa yang baru saja terjadi. Gadis itu menemukan kain yang mengapung, lebih terlihat seperti gaun.
Arienne ingat sekali, sebelum tertimpa, ia sempat melihat rambut yang panjang. Jangan-jangan pemilik gaun itu ada di sana? Gawat! Bahaya sekali tenggelam memakai gaun panjang, akan sulit untuk menemukan kepalanya. Mungkin orang itu bisa kesulitan menghirup udara di permukaan. Arienne menggerakkan kakinya meski takut ia malah ikut tenggelam.
"Kakak! Tolong bantu aku!" teriak Arienne. Ia mencari-cari di mana kepala si pemilik gaun, kewalahan karena tertutup lapisan sutra.
Kelelahan dengan kakinya yang berusaha membuatnya tetap terapung, tenaga Arienne terkuras cepat. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menyelam, ia merobek kain-kain itu. Akhirnya rambut pemilik gaun terlihat, waktu seolah berhenti untuk sesaat.
Rambut keduanya melayang di dalam air, Arienne memandang orang itu seakan-akan matanya menatap mutiara. Begitu indah dan sinar mentari yang menembus air laut membuat gadis misterius itu bercahaya. Matanya yang damai terpejam dan bibir ranum yang kesepian.
"Cantik ...," ucapnya. Gelembung keluar dari mulut beserta hidungnya, Arienne terperanjat. Segera merangkul orang itu dan meraih permukaan, napasnya tinggal sesengkal lagi. Sayangnya, ia kehilangan banyak tenaga, sulit melawan letih apalagi paru-parunya tidak mendapatkan udara dengan baik.
Di detik-detik itu, muncullah Ethan dengan lebam di keningnya. Kemungkinan besar gadis bergaun itu jatuh tepat di atasnya. Ethan menarik keduanya ke atas. Barulah Arienne meraup oksigen seolah kelaparan.
"Hah! Hah ... Kak Ethan! Dia ... jatuh dari langit!"
Seorang gadis jatuh dari langit! Benar-benar dari langit!
Jantung Arienne berdebar-debar, seperti menduga bahwa ini pertanda baik untuknya.
. . .
Orang-orang berkerumun mengikuti langkah kaki Ethan yang seluruh tubuhnya basah kuyup. Gadis yang jatuh dari langit itu berada di pundaknya, Ethan membawanya dengan buru-buru. Tentu mengundang perhatian dari masyarakat.
Arienne geram, ia berlari di depan sambil meneriaki orang-orang agar mereka berhenti berbisik dan mendekat, itu tidak membantu, sama sekali tidak. Mata hazelnya berkilat tajam. "Minggir!" teriaknya.
Setelah sampai di rumah, tubuh gadis bergaun merah muda itu dibaringkan ke lantai. Tangan Arienne terulur untuk memeriksa napas di hidungnya, tidak ada hembusan di sana. Wajahnya mengerut khawatir. Ia mendorong Ethan untuk mundur, segera ia berikan pertolongan pertama, menekan-nekan dadanya.
Tidak menunjukkan tanda-tanda. Ethan pun mendekati wajah gadis itu, dipegangnya di antara rahang dan menjepit hidungnya. Arienne menunggu, dalam hati ia berdoa semoga gadis yang tidak diketahui asalnya itu dapat kembali bernapas.
Baru saja Ethan akan menundukkan kepala, semburan air asin mengenai wajahnya. Tarikan napas terdengar. Kelegaan menjalar. Gadis itu langsung bangun, menabrak kening Ethan sekali lagi, pria itu meringis ke belakang.