18. Baldomar at the Storme

1.8K 353 75
                                        

Tolong, dengarkan lagu Wellerman versi Annapantsu untuk pengalaman membaca lebih baik!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Tolong, dengarkan lagu Wellerman versi Annapantsu untuk pengalaman membaca lebih baik!

Chapter ini agak panjang, jadi enjoy ya sambil dengerin lagunya!

. . .

Gelas-gelas yang berderet di meja kayu panjang itu tinggal sedikit lagi isinya. Gadis-gadis yang berpakaian terbuka itu mendekati para perompak, kulit lembut yang terpampang dan pakaian pendek mereka menjadi hal lumrah di Storme, sebagai pemanis.

Dengan mengedipkan salah satu kelopak mata, mereka mulai menuangkan rum pada gelas-gelas para perompak yang saling bertukar tawa dan canda.

Pria berhidung besar itu tersenyum nakal dan melayangkan sebuah pukulan pada bokong gadis yang melayani menu di meja kelompoknya, gadis itu sontak berbalik dan menatap pria itu dengan marah. "Tuan!" amuknya, tetapi bernada manja.

Kemudian pria itu tertawa dan menyelipkan koin emas besar ke kantong pelayan itu, sehingga ia hanya mendengkus dan mengambil nampannya pergi.

"Rasanya aku tak ingin pulang jika sudah duduk di sini!" seru bajak laut di meja besar dan bundar yang berada di tengah-tengah. Seorang bertopi hitam meneguk segelas rum, adam apple miliknya naik dan turun. Setelahnya sisa airnya menetes dari sudut bibir.

Saat ia mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, ia memejam mata sembari mendesah nikmat oleh rasa rum yang enak itu. "Saya mau lagi!" serunya. Ia mencoba berdiri, tetapi salah satu anggota kelompoknya menarik tangannya dan laki-laki itu kembali duduk sehingga topinya jatuh ke belakang leher.

"Kau mau semabuk apa lagi, Joe!" protes temannya itu, rahangnya tajam dan tegas. Mereka menempati meja ini sedari siang tadi, tetapi kelompoknya malah ketagihan dan tidak mau beranjak pergi. Bisa gawat kalau Joe pergi sendirian, karena sedari tadi juga bajak laut lain menatap mereka. Apalagi meja paling sudut, penyihir dengan tahi lalat besar di hidung.

Tak ada yang berani mengusir mereka, karena para cecunguk di sini tahu siapa kelompok yang menempati meja tengah ini. Hanya menerima tatapan tajam dari Jaquan─yang menarik Joe duduk─perompak itu akan beralih pandang. Tidak ada yang bertahan dari intimidasi matanya, buat siapa saja menjadi kecil dihadapannya.

Di era sekarang ini, terdapat lima bajak laut yang diakui sebagai bajak laut terkuat. Salah satu dari lima bajak laut tersebut adalah Baldomar, mereka sendiri.

Kemeja coklat cocoa yang dibalut rompi hitam milik Joe berantakan, bahkan dua kancingnya hilang entah ke mana. Jangan heran, dia memang suka berbuat onar.

Jaquan menggeleng-geleng. Ketika semua bernyanyi dan menyatukan gelas mereka, kepala seluruh perompak di sana mau tak mau untuk mengiringi alunan musiknya. Minum-minum setelah lelah berlayar memang tak pergi gagal untuk kembali menyegarkan mereka dari penat.

Sampai di tengah-tengah kerumunan yang tengah berpesta. Terdengar teriakan dari seseorang dan munculnya kobaran api, sekelompok bajak laut yang belum diketahui identitasnya itu menyebrangi kerumunan dengan aura yang tak bisa dijelaskan.

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang