BACA SCYLLA'S WAY DULU YA
***
Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Di dalam kabin kapal yang terayun-ayun tipis oleh gelombang laut, lima orang duduk tersebar di sekitar ruangan. Meskipun mereka berada dalam jarak yang cukup dekat satu sama lain, keheningan menciptakan suasana yang tegang. Pandangan mereka terfokus pada berbagai sudut kabin, mencoba untuk menghindari kontak mata yang dapat memicu percakapan seolah-olah ada tembok tak terlihat yang memisahkan mereka.
Juward memilih beristirahat di atas hammock yang tergantung di sisi kiri kabin. Ia tak ingin bicara atau semacamnya, orang-orang ini bisa saja memicu emosinya dengan cepat. Terlebih Elf itu, mau Juward usir saja dia rasanya.
Di sudut lain, seorang tuan putri berperawakan anggun duduk di kursi, menjaga pakaiannya tetap bersih dengan alas kain. Dia menyandarkan dirinya pada kursi dengan pandangan kosong, seolah-olah berpikir tentang dunia yang jauh dari sana.
Hanya dua orang saja yang tak betah bungkam kata. Sampai Pierre menguap lawan rasa kantuknya, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding kabin. Kaki kirinya lurus sementara kaki kanannya ia tekuk.
"Hei, tuan putri," sahutnya. Rosemary yang mendengarnya langsung menoleh. Ia mengedipkan kedua matanya, antara bingung dan menunggu alasan kenapa Pierre memanggilnya.
"Apa yang menarik dari Pulaumu itu?" Pierre melirik Rosemary.
Kini sang putri tahu kemana percakapan ini terarah. Ia pun tersenyum. "Kau akan tahu jika kau sudah berada di sana. Lagi pula ketertarikan orang berbeda-beda, kan?"
Tidak puas dengan jawaban Rosemary, Pierre pun mendengkus. "Aku pikir pulaumu itu hilang, ternyata memang tidak ada di peta manapun."
Juward membuka matanya. Tumben sekali bocah ini bicara tentang peta? Bukannya anak dari Poseidon itu hanya tahu cara membuat keributan dan menertawakan orang?
"Sebelumnya, populasi ikan di perairan saat ini menurun drastis. Seolah sesuatu telah menelan semua dari mereka." Pierre nampak serius membicarakannya, seolah ia bukanlah bocah di antara mereka.
Rosemary mengatupkan bibirnya, tak memberi tanggapan apapun. Lebih banyak mendengarkan. Lalu tiba-tiba gadis berambut blonde platinum menjerit. Rosemary, Pierre, bahkan Juward langsung bangun memasang telunjuk di bibir mereka.
"Sstt!" sahut mereka bersamaan.
Ternyata ada Carsein di sana dengan rasa penasaran di iris ungunya, lelaki itu meraba telinga panjang sang empu.
"Jadi ini memang asli," gumam Carsein.
Atensi mereka teralih lagi dalam sekejap mata, saat mendadak udara halus yang dingin memenuhi kabin. Mereka saling bertatapan. Rosemary yang sensitif dengan dingin memeluk tubuhnya sembari mengelus-elus lengannya.
"Bukannya tadi matahari di atas kepala kita?" desis Juward. Ia merasa ada yang tidak beres. Carsein tiba-tiba jadi diam, begitupun Pierre.
Anak dari penguasa lautan itu dapat merasakan keberadaan yang kuat, ia diam-diam mengangkat seringainya.