37 : Strong is not always about strength

1.2K 264 26
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .

Sehari setelahnya, di tempat yang berbeda, dan angin laut yang kencang, dua kapal mengibarkan layarnya, mengarungi samudera beriringan di gelapnya malam.

Kapal yang awalnya sunyi itu kini dihuni oleh sekelompok bajak laut yang sempat ingin memusuhi pemiliknya.

Ia, sang bangsawan menekuk tangannya di dada, merelakan kapal yang ia beli ditumpangi oleh para perompak dari bajak laut Blade. Lelaki itu berpikir mereka tidak mempunyai kapal atau apa, jadi ia bermurah hati menerima permintaan mereka. Ternyata mereka dua kali lipat lebih ramai!

Maka, Demian beralih mengurut batang hidungnya. Mereka lebih gaduh dari yang ia kira. Banyak sekali lagu-lagu yang mereka nyanyikan, bahkan mabuk di atas kapalnya. Ini benar-benar merepotkan.

Kalau saja tujuan mereka berbeda, Demian takkan sukarela berlayar bersama. Setidaknya bukan ia yang mengemudi atau bersusah payah membaca arah angin, peta, dan arus, terlebih di malam hari. Demian sendiri tidak pandai menavigasi. Jadi, kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak.

Smithson memegang gelas rum dan mendekati Demian yang merengut mengawasi kapalnya kotor diinjak-injak sepatu berlumpur.

"You should join us, Demian." Mendengarnya, bangsawan itu hanya mendengus. "I'm not interested," ungkapnya, ah, logat bangsawan sombong sudah kembali lagi.

Smithson meneguk minumannya, Demian melirik sekilas lalu kembali menghamburkan pandangannya pada awak kapal Blade yang tengah bersenang-senang.

"Kenapa kau tidak merebut Excalibur dariku?" desisnya, masuk ke telinga Smithson. Sang kapten mengangkat gelasnya ke atas, seseorang langsung mengambilnya, Miller pun di atas sana meninggalkan keduanya bercatur dengan mulut.

"Jika sesuatu telah menjadi milik orang lain, kurasa tidak ada gunanya memisahkan itu dari pemiliknya." Smithson ikut bersandar di dinding kayu, mencari kenyamanan untuk punggungnya.

"Jangan sok bijak, kau berubah sembilan puluh derajat ketika aku menyebut Actassi," tepisnya. Demian takkan lupa bagaimana ia dibuat pingsan dan diikat di bawah pohon.

Smithson pun terkekeh pelan.

"Ken dan aku adalah teman lama, kami bermimpi menjadi orang pertama yang berhasil berpetualang ke seluruh pulau yang ada. Kami sama-sama ingin menjadi kapten, itulah kenapa kami tidak berada dalam satu kapal." Smithson memandang krunya yang berlari-lari membawa obor, buat matanya mengilap.

"Jadi teringat masa lalu," ucapnya dan memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. "Kapan kau bertemu dengan Actassi?" tambahnya.

Iris birunya membelah udara, Demian kembali menyelam dalam benaknya. Mengingat kejadian sekitar dua tahun lalu.

"Kami bertemu di penjara bawah tanah Romani. Aku ditangkap atas tuduhan pembunuhan, aku dikhianati oleh kakakku, menyaksikan ibuku mati di pelukanku, dan mengetahui sebagian jasad rakyat Romani dibiarkan membusuk di dalam istana. Saat itu benar-benar seperti mimpi buruk bagiku, negeriku hancur ketika kerang itu ditiup. Kami sama-sama berhasil menyelamatkan diri dan bertemu lagi di Ragnarok."

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang