08 : Tread-board to Myerth

1.5K 392 59
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .

Ethan memandang adiknya dengan tatapan tidak percaya, kemudian dia menyentil kening Arienne sembari berkacak pinggang.

"Kau gila, ya? Kita ini manusia biasa mana bisa lewat jalan pintas dari dalam air?" Helaan napas terdengar.

"You don't even know how to swim!" sambung Ethan secara telak.

Arienne mendengus. "Hanya aku satu-satunya manusia biasa di sini, kakak kan manusia yang," tunjuk Arienne, tetapi ujung kalimatnya ia tahan.

"Ya, bukan kelas biasa pokoknya!" Arienne ikut menaruh tangan di pinggang.

Rosemary mendongak. Kenapa dia harus berada di tengah pertengkaran dua saudara ini?

"Aku bukan manusia biasa?" Rosemary ingin mengoreksi. Ia mengancungkan tangannya.

Tetapi dua bersaudara itu kompak dengan menunduk dan berkata, "Jelas mana ada manusia biasa yang jatuh dari langit?!" Dua-duanya sama-sama memiliki api di mata mereka. Rosemary ciut dan menyatukan kedua tangannya. "Baiklah, aku salah."

Arienne menarik tangannya dari pinggang dan menggaruk kepalanya keheranan.

"Terakhir kali lewat sana dibantu Pierre, sih. Itupun kami dimanfaatkan." Ia tersenyum dengan urat kecil di wajahnya. "Hampir mati kami dibuatnya."

Rosemary menatap horror.

"Lalu kenapa malah ingin lewat sana lagi?!" Putri dari negara asing itu tidak habis pikir.

Arienne hanya tersenyum cerah. "Bukannya hampir mati akan membawa keberhasilan?"

Ethan tersenyum masam sembari memutar wajahnya ke arah lain. Gawat, adiknya begitu mirip dengan Ethan di masa lalu.

Maka Ethan akhirnya mengakhiri perdebatan seraya kembali memegang stir. "Aku tahu jalan ke sana, aku akan bergegas."

Arienne mengangguk paham dan duduk di samping Rosemary. Gadis itu melirik perut yang dipegang oleh sang putri.

"Apakah perutmu mulai sakit lagi?" Arienne memiringkan kepalanya, sedikit mendekat.

Rosemary mengangguk pasrah. "Mulai terasa panas, sepertinya akan kumat."

Mata Arienne berbinar. Ia menepuk-nepuk lengan Rosemary. "Aku akan ada di dekatmu jika kau kesakitan. Akan kubuatkan air panas."

Tuan putri itu mengangguk kecil. "Terima kasih, Aria."

. . .

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang