BACA SCYLLA'S WAY DULU YA
***
Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Ethan mengangkat tubuh Rosemary. Meskipun wajahnya lebam penuh luka, masih ada kepedulian di sana. Ia menggeletakan tuan putri itu di dek kapal, berjalan ke pintu ruangan adiknya. Ia hanya berdiri di sana tanpa menunjukkan tanda bahwa ia akan masuk.
Pria itu duduk bersandar di pintu dalam diam. Menaruh tangannya di tekukan lutut, kaki satunya lagi dibiarkan lurus. Kepalanya bersandar pada pintu kayu itu.
"We need to talk later." Bibir tipis itu memecah keheningan malam.
Sementara di balik pintu, gadis yang tubuhnya lembab itu menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. Ia mendengarnya, nada serius, tetapi suara yang keluar juga terdengar lembut.
Arienne mendongak, menatap langit-langit ruangan begitu kesepian.
"Never lie to me, Aria. I could read you like a book." Sorot mata Ethan berubah tajam. Ia menyisir rambutnya sambil memejam. Ah, dia paling tidak suka melihat adiknya banyak berbohong.
Namun, Arienne tidak menunjukkan respon apapun. Hanya mendongak dengan pikiran kosong.
Antara Caspian dan dirinya memiliki ikatan yang kuat, seperti dipersatukan oleh takdir dulunya. Akan tetapi, bagaimana dengan sekarang? Mendapat sorot arogan nan tajam milik Demian saja ia merasa seperti sampah, ia ingat bagaimana kemarin ia begitu membutuhkan bangsawan itu. Seperti orang yang tengah mengemis.
Kenyataan bahwa North adalah orang yang keluar bersama Demian membuat hatinya ikut perih. Kenapa dulu pangeran es itu menatapnya begitu dalam seolah laki-laki itu tidak bisa melangkah dengan benar jika dirinya tidak ada? Mempelajari manusia apanya ....
"Juward," gumamnya. Matanya kian perih dan memerah dengan cepat. Ia mengepal kuat-kuat. Napasnya memburu seketika. Pelupuk matanya penuh, tetapi ia segera mengusap matanya.
Kenapa Arienne selalu menjadi satu-satunya yang mencari? Kenapa Arienne selalu kehilangan seseorang di sisinya? Arienne tidak terima ini, ia melepas sepatunya dan melempar itu ke nakas hingga gelas di atasnya jatuh.
"Aku harap aku juga menghilang dan kalian akan menyesali itu seumur hidup kalian!" teriak Arienne dengan segala bentuk amarahnya. Ah, bukankah sepertinya mereka terlalu sibuk untuk peduli?
Suara kepingan kaca yang pecah itu buat Ethan menoleh cepat. Ia mendekat ke pintu. "Aria? Apa kau baik-baik saja? Buka!"
Bunyi keras dari dalam berdatangan setelahnya. Ethan mengulum bibirnya, berusaha memaklumi emosi adiknya saat ini. Terlebih lagi, hanya dirinyalah yang paling tahu betapa inginnya Arienne berlayar kembali bersama teman-temannya.