BACA SCYLLA'S WAY DULU YA
***
Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Tiga hari kemudian.
Suara hentakan kaki dari prajurit Angkatan laut terdengar dengan padatnya, mereka baris-berbaris dan diberikan wejangan di setiap pagi. Setelah motivasi terpenuhi, instruksi pun dibagi. Pasukan ini dan pasukan itu, mereka sudah seharusnya disibukkan oleh kewajiban sebagai pengaman maritim. Beberapa yang telah dipercaya menjadi komandan mereka ke tempat-tempat yang ditugaskan.
Kemudian, laporan dan evaluasi, dua hal yang tidak boleh absen dari markas besar tersebut. Tingkatan paling tinggi Fortuna ; Navy Stronghold.
Hanya ada dua gerbang masuk dan keluar di sana, yang ada di tingkatan atas depan Fortuna dan yang ada di belakang penduduk Fortuna, gerbang utama ; di mana aktivitas maritim dipadatkan. Ramai kapal besar angkatan laut berkerumun rapi di dermaga setelah gerbang masuk.
Biasanya laporan dan evaluasi bulanan dirapatkan setelah pasukan angkatan laut yang dikirim ke luar pulau kembali dari tugasnya. Perwakilan dari pasukan masing-masing hadir dalam rapat, berhadapan langsung dengan laksamana. Pada komandan diharuskan melantangkan hasil tugas mereka dengan jelas, tanpa ditutup-tutupi apalagi dimanipulasi. Dan evaluasi tersebut jatuh pada hari ini.
Meja bundar dengan diameter yang cukup luas itu mampu menampung dua puluh perwakilan. Dalam ruangan tersebut disediakan kursi untuk menunggu laksamana datang, setidaknya akan ada satu perwira yang menginformasikan kepada Qesia bahwa ruangan sudah ramai dipenuhi.
Dengan seragam biru tua dan jas putih yang hanya disandarkan ke bahu, laksamana Fortuna yang ditunggu-tunggu oleh bawahannya itu menuju ruang utama markas besar.
Di tiap-tiap sudut dijaga oleh prajurit yang kaku seperti patung. Ketika laksamana melangkah masuk, ia memutari pandangannya, seolah mengabsen satu persatu dari komandan di sana.
Qesia menyadari ada yang kurang dari gerombolan yang menunduk kemudian mengangkat tangan ke kening, memberinya hormat. Kehadirannya begitu kuat, hingga dengan sekali lirikan mata, prajurit itu bergerak menyingkirkan kursi-kursi.
Rapat selalu dilangsungkan tanpa kursi, agar tidak ada yang mencoba tidur menikmati sandaran kursi ataupun termangu dengan menekuk tangannya di atas meja. Qesia berjalan ke tempat yang dikosongkan untuknya. Wanita dengan seragam yang sedikit terbuka itu melirik prajurit sekali lagi, dua dari mereka bergerak cekatan untuk mengambil tembakau yang ujungnya sudah dibakar.
Qesia kemudian menyesapnya dalam-dalam, memejam perlahan, lalu ia membuka kelopak matanya jauh lebih serius. Hembusan napas terdengar dalam sunyinya ketegangan, asap mengudara.
"Kenapa aku melihat jarak di meja ini, siapa yang tidak hadir?" tegasnya. Wanita berkulit sawo matang itu menarik satu alisnya ke atas.
Para komandan kini saling bertukar pandang, pula menghitung jumlah mereka. Karena ruangan sepertinya cukup ramai, mereka tidak menyadari ada satu orang yang tidak menghadiri.