Air meloncat dari mulutnya. Terbatuk-batuk gadis itu di bibir daratan. Setelah dadanya ditekan-tekan oleh pria di depannya, gadis itu memuntahkan air dengan ekspresi kesakitan.
"Uhuk!" Lehernya tercekat, ia linglung membuka matanya. Lima detik baru matanya jelas mendapati dirinya dikelilingi orang-orang yang menatapnya khawatir.
Indera pendengarannya mengecap suara air terjun yang cukup deras.
"Aria!" Ethan menepuk-nepuk pipi adiknya dengan pelan. Kening Arienne berdarah, bajunya sobek-sobek, sama seperti teman-temannya yang lain. Basah kuyup.
Dua puluh menit lalu. Ethan terdampar di perairan tak dikenal. Di depannya ia melihat hutan bambu, di belakangnya terdapat laut cukup dalam dengan bangkai kapal tempur yang rusak parah, menyangkut di sisi air terjun─banyak bebatuan tajam. Serta kapal lain yang terbalik mengapung beberapa ratus meter dari mereka.
Tubuh awak kapal mengapung di sekitar kapal. Ada yang tergeletak di atasnya. Ada juga yang tak sadarkan diri di dekat bebatuan. Buru-buru Ethan menyelamatkan mereka satu persatu.
Yang paling sulit ditemukan adalah Arienne, adiknya sendiri. Sempat frustasi Ethan dibuatnya, tetapi akhirnya Arienne berhasil dibawa ke daratan.
Bangun-bangun Ethan langsung memeluk adik satu-satunya. Arienne memejam, membalas pelukan kakaknya.
"Aku baik-baik saja, Kakak. Terimakasih sudah menyelamatkanku." Arienne mengulas cengirannya.
Juward menghela napasnya, lega. Ia memeras baju dan celananya. Arienne pun melirik navigator itu, perlahan pandangan berjalan ke teman-temannya yang lain. Arienne tidak tahu di mana tepatnya mereka berada, tetapi tidak ada salahnya untuk beristirahat sembari mengatur rencana selanjutnya.
Maka para laki-laki menjemur baju mereka. Mencari ranting kayu untuk membuat api unggun. Hari sudah petang, matahari mungkin akan segera tenggelam di kaki barat. Mereka harus menunda perjalanan mereka sampai esok hari.
Yang perempuan membantu dua laki-laki lainnya menangkap sesuatu di dekat air terjun. Belut dan ikan segar.
Pierre termangu. Ia pergi beberapa ratus meter ke depan, melewati bangkai kapal. Juward rasa anak dari Poseidon itu menyelam dalam-dalam. Tetapi ia mengabaikan anak itu dan menusuk ikan dengan bambu. Ternyata tidak sulit menemukan ikan di sini.
Lima belas menit kemudian, Arienne mengobrak-abrik isi kapal yang tersisa, dibantu Jake untuk naik ke sana.
Sejauh mata Jake memandang. Arienne tak pernah berubah, bahkan mungkin gadis itu semakin tangguh setiap harinya. Jake tersenyum tipis, bangga. Sialnya, dirinya tertangkap basah.
"Hey, stop looking at me with those eyes." Arienne menggerutu.
"What eyes?" Jake menyeringai jahil.
Arienne memutar matanya dengan malas, melempar barang-barang yang masih berguna. Jake mau tak mau harus bersedia menangkapnya. Jake termenung setelahnya, mungkin ia harus mengaku secepatnya bahwa dirinya memang pernah menjadi bagian dari bajak laut, yaitu Caspian sendiri.
Baru saja Jake hendak membuka mulut, Arienne lebih dulu bersuara.
"Kau ini memang pernah jadi bajak laut, Jemy? Tidak ada canggung-canggungnya dengan isi kapal. Kau juga mengerti cara mencuri kapal." Arienne berceloteh, membuka bajunya─menyisakan korset sedada dan perut ratanya─untuk membungkus makanan dan peralatan kecil yang ada di gudang persediaan kapal angkatan laut. Tentu air menggenang kaki mereka sampai paha.
Terbatuk-batuk Jake dibuatnya. Menoleh ke arah lain. "Bisa jadi."
"Rambutmu memudar ya, kemarin masih blonde." Arienne memiringkan kepalanya. Jake tertegun.
KAMU SEDANG MEMBACA
PHANTOM'S WAY
FantasyBACA SCYLLA'S WAY DULU YA *** Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
