75 : The Natural Law

820 209 38
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



***


Rosemary terbatuk, menelan amis mentah-mentah. Luka yang Warlock terima tampaknya bukan main-main, mungkin sebab Excalibur menjadi alasan pertama ia tidak bisa menyembuhkan jiwanya. Sehingga ketika pindah ke tubuh lain, rasa sakitnya akan tetap sama.

Get out from Rosemary's body!” Arienne tak melepas cengkeramannya. Perasaan sedih ia tinggalkan di belakang, relungnya kembali menggemakan amarah. Demian sudah sekarat bersusah payah atas keputusannya, tetapi itu tidak cukup untuk membalas dendam. Fakta bahwa Warlock merupakan penyihir tingkat atas yang licik membuat nada Arienne naik satu oktaf.

“Bukankah anak ini mengkhianatimu? Apa kau bahkan terlalu bodoh?!” Rosemary mengangkat tangannya tinggi-tinggi dibawa kendali Warlock. Percikan sihir yang lemah makin tampak tegas. Sekarang Warlock sudah tak peduli lagi, orang-orang keras kepala ini harus diberi pelajaran. Sebagai ganti atas kekacauan yang mereka berikan!

“Kau yang akan kubawa ke neraka, Serangga Kecil!” Seringai Rosemary terbuka lebar, bersiap membunuh Arienne dengan tangannya sendiri.

“Aria!” Ethan memekik panik.

Mata Arienne tersentak. Tubuhnya ambruk ke tanah, dadanya terasa berat karena orang di depannya menindihnya. Cairan hangat membasahi tubuh bagian depan. Sesaat waktu terasa amat lambat. Arienne hanya dapat mendengar deru napas Rosemary,

Yang menusuk dirinya sendiri.

“Apa yang kau lakukan!?” teriak Arienne. Jantungnya berdegup tegang. Rosemary perlahan bangkit, bertumpu pada satu tangan. Arienne membawanya duduk dengan memegang kuat kedua bahu gadis itu. “Apa kau sadar apa yang baru saja kau lakukan!?”

Gigi Rosemary dirapatkan. Menahan lirih bersama alisnya yang bertaut, serta tubuhnya yang gemetar. Tangannya dicabut, meninggalkan luka fatal yang menganga.  Rosemary hendak kembali terjatuh, tetapi Arienne menahannya.

Lunaar Quesaku … tidak sempurna.” Rosemary terbatuk lagi, darah kental jatuh ke tanah.

“Jangan bicara! Kau kehilangan banyak darah! Mi … Minerva!” Arienne risau, memanggil Minerva yang hati-hati berdiri.

Rosemary menggeleng. “Tidak … kalau aku disembuhkan, Warlock juga akan selamat. A … aku sudah menguncinya di dalam tubuh ini.” Mata Rosemary berkabut, berusaha bertahan lebih lama dengan pandangan yang mulai buram.

Goba buru-buru menghampiri, langkahnya diiringi kecemasan. Rosemary meliriknya, menggeleng lambat. Seolah mengerti, pelayan paling setianya bergeming. Diikuti pemusik di belakangnya, saling memandang dengan raut wajah getir.

Kaki Rosemary seperti tidak berisikan tulang, lemas menyentuh tanah. Eratan di bahunya makin terasa. Arienne menggertakkan giginya tak terima.

“Kenapa kau tak mencekikku saja tadi, kesempatan bagus untuk mengenai dua burung dengan satu batu.” Rosemary mengangkat pandangannya. “Kenapa menyuruh Warlock keluar?”

Sungguh tak tahu diri, bukan? Mempertanyakan hal demikian. Apa yang sebenarnya Rosemary ingin dengar? Dirinya pun tidak bisa menjawab.

“Kau masih temanku. Kau memang brengsek, Mary. Tapi kalau bukan karena keegoisanku, mungkin aku tidak bisa memahami temanku, dan tentangmu akan selamanya menjadi misteri bagiku.” Arienne menggigit bibirnya setelah mengatakan apa yang janggal di hatinya.

“Kenapa … kenapa tidak cerita padaku? Jangan-jangan kau tidak pernah menganggapku teman?” Mata Arienne berkaca-kaca kembali, tenggorokannya sakit.

Nonsense. You're my first friend. I'm sorry that I hurt you.” Akhirnya permintaan maaf penuh penyesalan lepas dari mulutnya. Satu duri yang menancap di hatinya tercabut.

“Aku sudah terbiasa mendapatkan kebencian,” Rosemary menekan giginya, membuka bibirnya sedikit gemetar, “tapi Aria … kau jangan pernah membenciku. Aku tidak bisa jika harus dibenci olehmu.”

“Maaf …” tambahnya penuh lirih.

“Kau pikir ini adalah cara terbaik agar aku memaafkanmu?! Dengan mati di depanku?!” Arienne mulai terisak.

Seolah sepakat merayakan kekalahan Warlock, hujan turun membasahi seluruh penjuru Pulau Phantom.

“Tapi mungkin sama saja, karena aku harus kehilangan salah satu dari kalian.” Arienne memejam, keningnya mengerut. Tangan Rosemary terulur untuk menghapus jejak sungai yang kembali terbentuk. Darah membekas di pipi Arienne akan dibasuh oleh rintik hujan yang makin deras.

“Jika waktu kembali terulang, aku akan tetap mengorbankan diriku jika itu demi dirimu. Karena aku tidak punya alasan lagi untuk tetap hidup, ayahku sudah tiada.” Bulir air mata tanpa halangan menetes dari dagunya.

Rosemary kemudian terjatuh dalam dekapan Arienne. Kesadarannya berangsur-angsur menghilang. “Namun, temanmu … dia … belum harus mati.”

“Yang ditakdirkan mati, akan mati di sini. That is …” Mendengar kata yang mulai terbata-bata, napas Rosemary yang menipis. Arienne menarik tangannya untuk memeluk tubuh Rosemary yang tak lagi hangat.

“.... the natural law, Phantom's Way.”

Kata itu adalah kata terakhir yang terdengar, sangat pelan.

“Waktu bersama hadirmu, akan tetap menjadi memori menyenangkan, Rosemary.” Arienne menyembunyikan tangisan di antara hujan, sebelum akhirnya Rosemary menghembuskan napas terakhirnya di pelukan Arienne dengan senyuman.

Hujan seolah mengerti, betapa banyak tangis yang meringis, betapa banyak jiwa yang berduka malam ini, serta betapa sakitnya sebuah tragedi. Mereka berhasil mengembalikan Tuan Putri ke tempat peristirahatan terbaik, karena sejatinya Lunaar Quesa membuat peraturannya sendiri.

Lantas, apakah mungkin kisah ini berakhir begitu saja?

***

Menuju ending 2-3 bab lagi OMG 🥺🥺🥺🥺

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang