BACA SCYLLA'S WAY DULU YA
***
Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Setelah apa yang terjadi belakangan ini, Arienne hanya bisa menahan semuanya sendiri. Terkadang ia tak bisa menunjukkan bahwa ia tidak cukup kuat untuk hadapi ombak besar yang menerjangnya. Kadangkala ia harus memaku kakinya agar tidak terguling ke belakang. Karena akan ada orang-orang penting di sekitarnya yang melihat punggungnya.
Arienne lah yang memegang risikonya sebelum ia tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar sana, apa yang telah tercipta ketika ia tidak ada, apa yang sudah dialami oleh Caspian tanpanya.
Seketika perasaan itu memenuhi relungnya dan menimbulkan pertanyaan seperti, 'Apa aku memang tak cukup kuat sehingga mereka enggan bersembunyi di belakangku atau sekadar meminta tolong?' Arienne selalu memutar pertanyaan itu setiap harinya, setiap jarak yang kapalnya kikis untuk dekat. Terlalu mengikat mereka seolah membuat mereka makin menjauh dan sulit digapai.
Dan benar, Arienne memang tak cukup kuat. Arienne memang gadis lemah yang tak mau mengakui bahwa keinginan idealisnya untuk kembali bersama telah patah.
Namun, ketika sosok Carsein mendekapnya dan mengakatan hal yang ingin ia dengar langsung buat pertahanannya runtuh. Perasaannya tumpah-ruah bersama dengan air matanya yang mengalir deras.
Carsein menahan pundak Arienne, mereka melepaskan pelukan hangat itu dan menyisakan kebingungan pada sang pemilik pulau. Ia memiringkan kepalanya. "Apa kau baik-baik saja?" tanya ia. Sebenarnya Carsein tahu pertanyaan itu sia-sia, tetapi ia penasaran.
"Dan kau masih bertanya?!" sergah Arienne. Ia mengusap air matanya sendiri. "Aku kehilangan dua orang kepercayaanku, itu buatku merasa tidak diinginkan oleh teman-temanku sendiri! Juward juga tidak ada di Myerth! Aku selalu hampir mati, tetapi kali ini rasanya aku ingin meledakkan dunia dan seisinya!" Kemudian gadis itu menunjuk sepatu boots kirinya.
"Aku melompat dari kapal karena sangat ingin memastikanmu ada di sini, aku pun terkilir!" Arienne mengomel dengan hidung merahnya. Carsein berusaha menahan tawa sebaik mungkin.
"Kalian ... tidak menepati janji, jadi aku khawatir." Arienne menunduk, air matanya berhenti turun.
Carsein berjongkok. Iris ungunya kembali bertemu hazel milik Arienne yang berkilau oleh sisa air mata. Penyihir itu tersenyum sendu.
"Maaf, nona. Aku bukan sengaja melanggarnya." Penyihir itu menatap dalam-dalam. Kemudian senyumnya pudar ketika gadis itu bertanya.
"Apa yang terjadi selama setahun ini, Sein?" Gadis berambut merah kecoklatan yang diikat berantakan itu penasaran, juga terselip kekhawatiran di sana.
Carsein berdiri. Wajahnya berubah gelap seolah ia akan serius dengan perkataannya.
Penyihir itu memang menyukai Caspian, terutama Arienne dan Juward. Ia takkan pernah lupa bagaimana perjalanan itu mengubah hidupnya yang penuh gerhana. Maka setelah setahun itu Carsein akan menepati janjinya, ia mencoba menghubungi Pierre yang memang akhir-akhir ini jarang bertukar informasi, untuk pergi ke Mercene bersama-sama.