BACA SCYLLA'S WAY DULU YA
***
Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Peluh menuangi raut wajah Arienne, ia merenungi perkataan Hanze, lamat-lamat ia beradu pada mata lawan bicara. Maka kemudian ia kembali menoleh pada North yang terbaring menelantarkan kewaspadaannya tanpa sepatah kata.
Gadis itu berwalang hati, pula bimbang. Ia mengintip di balik jubah Hanze, teman-temannya memusatkan atensi mereka padanya. Sementara kakaknya diam-diam menggeleng kepada si bungsu, mengunci kontak mata dalam-dalam.
Seolah mewasiatkan Arienne agar tidak ceroboh mengambil keputusan, mereka terdesak saat ini, tidak ada yang mendengar kesepakatan di antara Hanze dan dirinya, kecuali North yang membisu.
"Ke mana kalian akan membawa North nanti?" Suara Arienne lewat seperti angin yang lembut, Hanze melirik sekitar lalu mendekat. "Markas besar, jadi kita tak mungkin bertemu lagi."
Jauh di dalam sana, ada jangkar yang melibat jiwanya. Ada banyak hal yang ingin Arienne persoalkan, dan biarkan suara North yang menjadi kunci jawabannya. Akan tetapi, kenapa North tak mencegahnya pergi? Kenapa North tak bicara apapun setelah menatapnya sedalam itu? Bahasa mana yang harus Arienne kuasai agar ia mampu memahami diamnya sang pangeran?
Oh, North, andai dirinya tahu, betapa frustasinya mencari semua jawaban itu sendirian. Apa memang takdir dari masa depan keduanya menghendaki mereka berpisah? Angkatan laut dan bajak laut, dua mitra yang dinamai kutub positif dan kutub negatif. Selamanya mereka takkan mungkin bersatu.
"Kita memang harus menjadi musuh, ya?" gumam Arienne.
Dari yang telinga Hanze tangkap, ada perasaan tak rela dari suara gadis itu. Laki-laki tersebut tak tahu menahu mengenai hubungan komandan angkatan laut dan bajak laut kecil seperti Arienne.
Malah Hanze yakin, ia akan dimarahi habis-habisan jika membiarkan bajak laut kabur dengan percuma. Maka, inilah jalan terbaiknya, setidaknya ia akan berbaik hati sekali. Itupun untuk membalas budi. Selama berada di kapal Arienne pun, ia tak mendapat ancaman apapun. Seolah yang dilakukan Arienne hanya mengembara bersama teman-temannya.
Kemudian, hal itu ditepis mentah-mentah oleh Hanze. Sebagai bagian dari angkatan laut, ia tidak boleh sekalipun memihak musuh alaminya.
"Nona Arienne, saya akan menegaskan sekali lagi." Vokalnya terasa lebih dalam, Arienne tersentak. Ia meremas tangannya karena tak memiliki opsi sendiri.
"Saya akan membiarkan Anda pergi, asalkan Anda beserta awak kapal Anda bersikap seolah kita tak pernah bertemu sama sekali. Angkatan laut dan bajak laut, tidak boleh memiliki hubungan." Formalitas yang digunakan oleh Hanze buat Arienne terasa makin asing.
Namun, tetap, Arienne menengok North sekali lagi. North sama sekali tidak membuka suaranya, Arienne frustasi. Sementara North mengatupkan bibirnya rapat-rapat, membenamkan atensinya pada hazel berkabut milik Arienne. Tidak ada yang mengetahui keinginan pangeran es itu, terkubur seperti harta karun misterius.