Aliran angin yang dingin mengelilingi tangan North. Secara perlahan membentuk pedang es dengan sendirinya. Hembusan dingin keluar dari napasnya, sesaat kemudian tubuhnya melesat bersama hentakan kaki yang cepat.
Pedangnya membelah udara, menebas Jitrix. Wanita tersebut melindungi dirinya dengan ekornya yang tebal. Saking kerasnya, North tidak bisa menggores kulitnya sedikitpun.
Wanita itu terkekeh. North bukan jenius, tetapi instingnya tahu bahwa kelemahan monster itu ada di wajahnya. Terdapat bekas darah di sana. Mungkin Arienne dan Demian berhasil menyerangnya di titik itu.
Sebelumnya memang ia pernah mendengar desisan ular ketika hendak masuk ke istana. Tak ia sangka ularnya sebesar dan semerepotkan ini.
North mendengus. Melihat sekitarnya. Pierre sedang berjongkok menatap bongkahan esnya. North mengernyit. "Sedang apa kau? Serang penyihir api di sana dengan airmu."
Pierre menatap malas. "Aku sedang menunggu esmu mencair. Di sini tidak ada air lagi. Tanahnya pun kering kerontang," katanya sembari menunjuk tanah.
Juward yang mendengarnya menepuk kening sendiri. Carsein langsung melayang begitu saja ke arah Warlock, tanpa memikirkan konsekuensinya. "Aku melawan yang lebih kuat!" teriak Carsein penuh antusias. Mata ungunya membara, rambutnya yang semula merah muda berubah seputih kapur. Juward meraup wajahnya sedikit lelah.
Jake menahan senyumnya. "Biarlah orang dewasa yang melawan siluman ular itu." Dengan gagah berdiri di samping North. Pierre mengancungkan jari tengahnya.
Tepat saat Jake berlari menahan ekor Jitrix sekuat tenaga. Ia berteriak pada North untuk menyerang ular itu. Sialnya, badan Jake melanting ke samping karena Jitrix lebih kuat darinya.
"Tch, orang dewasa yang bodoh!" cibir Pierre.
Ethan menggeleng. Ia menoleh pada North, hendak memberi saran. "Buatkan Pierre tombak menyerupai Trisula."
North mengingat-ingat apa itu Trisula. Dengan yakin merumuskan senjata baru. Ia menggerakkan tangan kirinya, memanggil lebih banyak kekuatan es untuk membentuk tombak panjang yang tajam. Ia tahu bahwa serangan fisik tidak akan berhasil, ia butuh sesuatu yang ujungnya tajam. "Pierre, ambil ini!" katanya sambil melempar tombak es ke arah Pierre.
Pierre menangkap tombak itu dengan sigap dan senyum terpaksa di wajahnya. "Sangat ... kreatif," gumamnya.
Juward lagi-lagi menepuk keningnya. Kenapa bentuk Trisula es itu seperti garpu kebun?!
Sudahlah. Juward lebih baik fokus dengan pertarungannya juga, bersama Ethan. Ia memasang perenggangan, membunyikan tulang-tulang lengan dan lehernya. "Bukankah penyihir api itu terasa familier? Apakah karena kekuatannya sama dengan angkatan laut kemarin?" Mata Juward menyipit.
Ethan bergumam. Memutar-mutar pedangnya. Kemudian tangannya terangkat untuk menutup setengah wajah Roan, dibuka, lalu ditutupinya lagi. Barulah Ethan sadar. "Ooh! Dia penyihir api yang membakarku di panggung Storme! Sialan, kau bekerja untuk seseorang." Gigi Ethan menggertak, serta menyeringai kecil.
Pedang Ethan ditancapkan ke tanah sementara. Ia membuka kancing bajunya satu persatu, menahan senyumnya. Lalu setelah bajunya yang sudah lusuh dilepas, ia ikatkan ke pinggang. "Baiklah, bakar diriku hidup-hidup kalau bisa." Seringai terbit dari ujung bibirnya. Melesat cepat bersama pedangnya yang sudah membelah udara.
Juward tertegun melihat lari secepat itu.
Penyihir api itu mendecih, berusaha melihat gerakan cepat Ethan. Api menyembur, tetapi ia salah tindakan. Ethan menghilang dari radar saat api menutupi pandangannya.
Sial. Ia jadi ingat bagaimana Ethan hampir menghabisinya di Storme. Ia merapatkan gigi-giginya, melihat sekitar dengan agak panik.
Ethan melesat dengan kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang. Setiap kali Roan menyemburkan api, Ethan dengan lincah menghindar, membuat api hanya membakar udara kosong. Namun, sesekali Ethan terpaksa menahan api dengan pedangnya, menciptakan perisai hingga besi pedangnya memanas.
KAMU SEDANG MEMBACA
PHANTOM'S WAY
FantasíaBACA SCYLLA'S WAY DULU YA *** Hampir dua tahun lamanya sejak Arienne kembali dari perjalanannya, gadis yang berhasil membawa kakaknya pulang. Kini ia hanya menghitung hari, berharap setidaknya teman-temannya mengabari. Namun, tidak ada tanda-ta...
