59 : The first piece of disaster

1K 247 125
                                        

Burung bercicit. Cahaya menembus kain tipis yang melambai-lambai dibawa angin. Jendela terbuka, segar rasanya. Cuaca sejuk, tidak merajuk seperti kali terakhir Arienne mencoba menerabas pintu masuk ke Pulau Phantom.

Mata hazelnya berkedip. Seseorang memanggilnya tiga kali, sebelum akhirnya berteriak kencang agar mendapat perhatian Arienne sepenuhnya.

"Oh, maaf, aku melamun." Arienne menggaruk pipi dengan jari telunjuk.

"Nona, silakan makan ini agar kau cepat pulih." Salah seorang pemilik gubuk menyodorkan bubur, tetapi warnanya hijau dan menyengat. Arienne menggembungkan pipinya.

"Aku Kochi, dua saudaraku yang lain namanya Domih dan Morin." Tulang selangkanya terlihat jelas. Tetapi Arienne tidak mengganggap mereka lemah, justru mereka cekatan.

Kochi, yang memberi sendok kayu, duduk memperhatikan Arienne. Gadis itu mau tak mau harus benar-benar menelan bubur aneh itu. Dan rasanya tidak benar-benar seperti penampilannya, hambar dan sedikit pahit. Namun, Arienne bisa menghabiskannya.

Dalam posisi duduk, Arienne melihat-lihat bahwa pakaiannya diganti. Lukanya tidak terlalu sakit. Perawatan mereka manjur sekali. Arienne tersenyum.

"Terima kasih sudah merawatku, Kochi. Akan tetapi, aku harus segera pergi dari sini." Arienne mengelus bekas mangkok bubur, menatap Kochi penuh pengertian.

Kochi menggeleng.

"Nona, Tuan Demian memintaku untuk mencegah kau berpikir demikian." Kochi berdiri, mengambil mangkok Arienne. Kochi membawanya ke luar, Arienne turun dari ranjang dan mengekorinya.

Mengernyit, Arienne berjalan di belakang Kochi. "Untuk apa? Teman-temanku menungguku!"

Kochi menghela napas singkat. Menaruh mangkok di atas tong berlumut, lalu berbalik ke arah Arienne.

"Kau tidak mengetahui sesuatu tentang hutan bambu, Nona?"

Arienne yang jelas-jelas baru pertama kali ke mari, tidak mengetahui apapun, termasuk hutan bambu. Kochi pun menunjuk ke hutan bambu yang jaraknya tidak terlalu jauh dari gubuk.

"Kalau lewat sana, kau harus siap kehilangan banyak darah. Itu persyaratan masuknya. Kami sudah terbiasa, lihat!" Kochi memperlihatkan kain-kain yang mengikat lengan dan kepalanya. Rupanya anak itu juga terluka, sama seperti saudaranya yag lain, memakai ikatan kain untuk menutupinya.

"Tapi kenapa aku terpisah dari rombonganku? Ke mana mereka, Kochi?" tanya Arienne, nadanya khawatir dan sedikit frustasi.

"Makanya jangan hanya modal nekat."

Seseorang mencibir. Arienne dan Kochi menoleh, mendapati Demian bersama Domih juga Morin, mengangkat bambu tinggi-tinggi. Ada banyak ikan yang tertusuk di bambu itu.

Tubuh mereka luka-luka. Memang berdarah, tetapi tidak separah lukanya kemarin.

Arienne mengepal. "Kenapa kau ada di sini, sih? Kau belum menjawabku!"

Demian mengangkat satu alisnya. Mendengus remeh. "Harusnya kau bersyukur aku ada di sini, kalau tidak, kau sudah mati."

"Kau bilang tujuan kita berbeda, lantas kenapa aku melihatmu di sini? Dan bagaimana caranya? Pulau Phantom adalah tujuanku!" Arienne menghalangi Demian yang hendak pergi lagi.

"Kau ke sini untuk bersenang-senang, kita berbeda." Demian menoyor kening Arienne, gadis itu mundur dua langkah sembari memegangi keningnya. "Hei!" protes Arienne.

Tidak pernah berubah sama sekali. Bangsawan sombong ini benar-benar menyebalkan. Apa Demian tidak pernah mengganggap Arienne temannya?

"Aku mau menyingkirkan rajanya, membawanya ke neraka." Demian berkata santai, seolah apa yang barusan ia bilang bukan sesuatu yang mustahil.

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang