16 : Arrest of Actassi

1.6K 366 110
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . .




Tapak kakinya terdengar samar-samar, diikuti beberapa orang di belakangnya yang membawa tombak. Ia berjalan lurus, kemudian berbelok. Tak henti-hentinya merapikan jubah dan kerahnya, ia harus terlihat sempurna di depan atasannya.

Tak lama kemudian ia beri jeda pada langkahnya, menarik napasnya dalam-dalam dan mengetuk pintu itu. Terdengar persetujuan dari dalam, maka laki-laki itu pun masuk.

Orang yang mengawal di belakangnya tidak ikut masuk, lalu pintu pun ditutup. Hanya ada dia dan atasannya yang ada di balik kursi itu.

Foto-foto pahlawan yang dibingkai sempurna di dinding itu seolah memasang mata padanya. Laki-laki itu meneguk salivanya diam-diam.

"Laksamana, laporan datang siang ini. Sebagian armada ada yang menghilang, tidak diketahui apa penyebabnya. Beberapa dari mereka berhasil menangkap bajak laut, sisanya dikalahkan oleh perompak itu." Laporan harian selalu disetor jika laksamana itu ada di pusat Marine.

Wanita berkulit sawo matang itupun membalikkan kursinya, duduk menyilang dan menyelipkan tembakau di jarinya. Matanya menatap tajam, tetapi membara. Angkatan laut yang tengah bertugas itu mulai berkeringat.

Selang laksamana itu menghembuskan nikotin itu ke udara, ia memejam. "Aku tak mengirim mereka untuk kalah. Segera lakukan evaluasi sebelum kembali mengirim pasukan." Ia kembali mengangkat kelopak matanya. Pelan-pelan, tetapi pasti. Ia benar-benar mengeksekusi satu persatu perompak itu ke penjara.

Para penjahat itu harus merenungi dosa-dosanya di sel tahanan.

Laki-laki itu hendak pamit, tetapi laksamana menghentikannya. Wanita tersebut mematikan sumbu tembakaunya dan berdiri sembari menarik jubahnya.

"Bawa balok es lebih banyak ke ruangan anak itu." Mendengarnya, laki-laki itu mengangguk kaku. Ia segera kembali ke tugasnya, yaitu memeriksa laporan dari kapal-kapal yang keluar dan masuk.

Tanpa disadari, ia melewati ruangan yang disebut sebagai neraka es. Angkatan laut banyak menyebutnya seperti itu, karena ketika melewatinya bulu kudukmu akan berdiri dan leher belakangmu seolah membeku. Entah monster seperti apa yang atasannya bawa setahun lalu. Mereka tak bertanya banyak karena secara mengejutkannya, sosok misterius itu membantu.

Saat laki-laki itu kembali ke lapangan kerja, seseorang terpingkal-pingkal ke arahnya.

"Pasukan kita bertemu dengan Actassi!"

. . .

Napas yang mengeluarkan api, kulitnya yang keras dan pinggirannya yang tajam. Makhluk itu mengeluarkan gelombang dari suaranya yang mampu buat rambut gadis di depannya berhembus ke belakang.

Makhluk yang pernah membawanya ke langit setahun yang lalu itu sekarang ... berada di telapak tangan Arienne!

"Kok dia jadi imut begini?!" pekik Arienne. Ia mengelus kepala naga itu dengan pipinya. Pierre termangu menatap naga yang dinamai Dustin oleh temannya itu.

PHANTOM'S WAY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang