VOL. [1] - 5 - Kangen Bakwan Sosis

325 11 13
                                        

Langkah Sumi gontai; buku teks pinjaman perpustakaan menjadi perisai kepala dari sengatan surya siang itu; aspal panas di bawahnya seakan menguapkan lidah-lidah api kasat mata.

Tak heran jalanan kompleks kosong dari lalu lalang penduduk, tak seperti biasanya; seakan-akan mereka menghindari bala, atau kemasak hidup-hidup.

Yang Sumi bayangkan hanya semburan sejuk AC kamarnya saat ini; mungkin dia malah akan menggeletak di ubin, dengan segelas es teh—atau es cendol—mengguyur dahaganya.

Kepalanya berdenyut-denyut menyebalkan.

Ini hari kenapa panas amat, yak?

Masih tiga ratus meter harus ditempuhnya untuk sampai rumah. Waktunya menggantikan Ibu, agar beliau bisa istirahat. Kalau saja dia dapat langsung terjun ke warung tanpa harus melewati ritual dandan, sanggulan, dan kebayaan, mungkin langkahnya akan lebih bersemangat.

"Teh, teh."

Sumi berhenti.

Ditengoknya ke kiri; matanya memicing ke dalam gang sempit yang gelap, asal panggilan barusan. Ada ... sosok teronggok di atas dipan bambu sempit di atas selokan.

Sosok itu bangkit. "Teteh."

"Gua bukan orang Sunda," celetuk Sumi spontan. Kepalanya yang nyut-nyutan menyita kemampuan otaknya mengukur situasi. Belum jelas terlihat wajah orang tersebut.

Ternyata berwujud laki-laki kumel gondrong, yang kini terhuyung menghampirinya keluar gang ke jalan. Mulutnya setengah menggantung; matanya seperti mengantuk, dan merah.

Mabok? Sakaw?

Lalu, Sumi menangkap kilatan mata pisau itu.

Jantungnya seperti disiram air es; tubuhnya menegang.

Pisau itu terarah ke Sumi. "Teh, duit; ayo ... kasih duit," desak laki-laki itu. Suaranya, dan tato kobra di lengan bawahnya, lebih mengancam dibandingkan topangan badannya.

Pemalak itu terus mendesak; makin mendekat.

Sumi mematung. Degupan jantungnya sampai ke telinga; pompaan adrenalin sudah siap memacunya lari keluar situasi itu.

Lari?

Kemana?

Rumahnya dekat; kalau dibuntuti bagaimana?

Teriak?? Lawan?? Pakai apa; digebuk buku teks??

DIA HARUS BAGAIMANA??

Seketika, ada lemparan pecahan genteng menghantam tangan si pemalak hingga terhempas pisaunya. Pemalak itu menjerit dan mengumpat.

"Pergi nggak lo??" hardik seseorang dari belakang Sumi.

Pemalak teler itu beralih ke penantangnya; dalam sedetik, matanya membelalak dan bibir pecah-pecahnya memucat. "Ampun, Bang; ampun." Tubuhnya membungkuk-bungkuk; buku-buku jari tangannya—yang mencengkeram bekas hantaman genteng tadi—memutih.

"Lo balik ke sini: mati; ngerti??" ancam suara itu.

Si pemalak mengangguk-angguk cepat sebelum lari tunggang langgang ke dalam gang, tersungkur, dan menabrak dinding beberapa kali.

Sedari tadi Sumi berusaha mengatur napasnya yang memburu. Ia berbalik hendak berterima kasih kepada penyelamatnya ....

... dan dia terkesiap.

Kerongkongannya terasa kering; kesulitan ia mengucapkan satu nama di ujung lidahnya.

"Jaka??"

Lelaki itu tersenyum, menyapa Sumi dengan anggukan. "Hei."

Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang