VOL. [1] - 14 - Jajanan Malam

122 5 0
                                        

Tubuh Sumi tegang; jantungnya berdebar kencang. Mbah Ti memang anti basa-basi. Sumi melirik canggung kepada Andi.

Ekspresi lelaki itu tetap tenang; kontras dengan Mbah Ti yang--walau mungil dibandingkan Andi--menatapnya tajam.

Lesung pipit Andi muncul sempurna berbingkai brewok tipis. Sorotan matanya hangat. "Nggak, Nek; saya akan jaga Sumi baik-baik. Niatan saya malem ini untuk bantu dia, Nek."

Mbah Ti memicingkan mata. "Betul begitu?"

"Nenek bisa pegang janji saya," imbuh Andi. "Ibu saya banyak mengajarkan saya bagaimana memperlakukan wanita. Saya akan jaga cucu nenek baik-baik."

Ya ..., nggak butuh dijagain juga, sih.

Sumi terpaku memperhatikan keduanya yang diam bersitatap.

Begitu selama beberapa menit, sebelum Mbah Ti mengejap; pandangannya melunak. Beliau memutsr badannya dan menarik turun bahu Sumi.

"Ora gendheng (nggak gila); aman," bisiknya di telinga Sumi; diikuti dengan anggukan mantap dan acungan jempol keriput.

Sesepuh itu mendelik ke Andi, yang masih berdiri kalem. "Awas; kalau nanti kenapa-kenapa, tak cari kamu," ancamnya.

Andi tersenyum lagi dan mengangguk.

Mbah Ti menarik bahu Sumi lagi; bisikannya lebih pelan kali ini. "Ganteng dan gagah men, ik (banget)! Seleramu persis koyo (kayak) Mbah!"

Hah??

"Mbah ..., kan, mbot-- (ngga--)"

Telunjuk Mbah Ti mengisyaratkan Sumi tidak melanjutkan omongannya. Sesepuh itu lantas pamit dan melenggang pulang.

Belum sampai sepuluh meter, beliau berbalik menghadap Sumi; kepalan di atas kepala, dan meneriakkan, "TRES--NO (cin--ta)!"

"Apa katanya?" tanya Andi mengernyit.

Sumi gelagapan dan buru-buru mengajak Andi untuk masuk gerbang otomatis.

"Makasih, ya, Bang; tapi, asli, nggak perlu, kok," ucap Sumi ketika mereka menuruni tangga ke peron.

Sebelum masuk gerbang otomatis tadi, Andi bersikeras menambahkan saldo kartu kereta Sumi di mesin top up. Jumlahnya besar sekali hingga Sumi melongo.

"Nggak 'pa-'pa. Kan, saya yang ngajak." Andi tersenyum kecil. "Laper, nggak, Non?"

Sumi nyengir dan mengangguk. "Saya ikutin, kok, saran Abang; nggak makan abis makan siang."

"Bagus, dong; biar bisa nyoba segala macem nanti," ujar Andi sembari mengecek arloji hitam digitalnya lalu monitor info kedatangan kereta. Digiringnya Sumi duduk di bangku peron menunggu kedatangan kereta.

Stasiun Jatinegara lumayan ramai malam itu. Walau begitu, Sumi merasakan energi kolektif yang berbeda dibandingkan hari-hari kerja; lebih rileks; busana-busananya pun terlihat santai.

Bahkan Andi pun, Sumi perhatikan, terlihat kasual sekali dengan balutan kaos hitam berkerah dan celana jeans.

Sumi melihat busananya. Ia berharap baju terusan longgar sepaha dengan jeans tidak memberi sinyal yang salah pada Andi. Sebab, repot berurusan sama pria yang salah terka perasaannya bersambut.

Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang