VOL. [2] - 10 - Bakwan Cetakan

49 5 0
                                        

A/N - Update rada awal, nih. Enjoy ❤️
- Kahala -
__________

Buka?

Jangan?

Buka?

Namun, kalau dia buka, menyalahi perintah Bimo? Seorang istri, kan, harus manut.
(nurut)

Akan tetapi ..., dia penasaran.

Mengedikkan bahu, Sumi meraih dan mengenggam gagang pintu terlarang itu.

"Miya? What are you doing?"
(Kamu ngapain)

Sumi menoleh, mendapati Bimo berjalan santai di lorong ke arahnya. Pemandangan yang indah, melihat suaminya dalam perspektif lorong lebar yang menurun panjang, dengan taman kerikil putih bersorot lampu-lampu reflektor dari sepanjang sisi bawah lantai kayunya.

"Aku penasaran, Bim," akunya kalem dengan senyuman, tanpa melepaskan pegangannya pada gagang pintu.

Bimo bergumam tawa. "Kamu ngebangkang, hmm?" Mata tajam itu melembut menatap istrinya.

Sumi menatapnya balik dengan tenang.

Tangan Bimo terulur dengan telapak terbuka. "Sini."

Ketika Sumi menyambut uluran tangan itu, suaminya menariknya ke dalam pelukan; membuatnya cekikikan.

"Aku pengen lihat, Bim," ujar Sumi, menyandarkan kepala pada dada bidang berkaus hijau zamrud itu.

"Jangan, Sayang; nurut, dong," larang suara serak-serak basah Bimo, mengecup puncak kepala istrinya.

"Di baliknya apaan, Bim?"

"Miya ...."

"Segitu rahasianya?" Sumi mendongak memandang Bimo.

"Honestly, yes." Lelaki itu tersenyum kecil. "Urusan pribadiku."
(Jujur, iya)

"Istrimu pun nggak boleh tau?" Sumi menelengkan kepala. "Kalau Kinan? Papa?"

Bimo terdiam sejenak. "Let's not talk about this, okay?"
(Kita nggak bahas ini, ya?)

Suaminya bilang begitu, mau bagaimana lagi?

"Ya sudah ...." Bibir Sumi merekahkan senyum manis. "Aku laper."

"Oke. Lunch. Ayo." Bimo merangkulnya, berjalan bersama kembali ke arah ruang tengah.
(Makan siang)

Ketika mereka berbelok di sudut, Sumi melirik pintu gimnasium. "Kamu jadi jarang latihan silat."

Bimo berhenti; dahinya berkerut ketika menunduk menatapnya. Sekilas rahangnya mengencang. "Silat? Ehm ... aku Kickboxing, Sayang."

"Iya, ya? Seingetku silat; dari kecil kamu jago banget, 'kan? Jadi jarang latihan di situ?"

"Well, ehm, sejak kita rutin ..., well ...." Bimo tersenyum miring. "Nggak butuh tiap hari lagi."

"Hah?"

Suaminya terkekeh pelan. "Nevermind. Come on: lunch."
(Lupain. Ayo: makan siang)

* * *

Lelah.

Kenapa, sih, dia harus bertemu psikiater terus menerus?

Berbagai tes yang seperti tak ada habisnya. Untuk apa, sih, macam-macam tebak-tebakan pakai komputer itu? Terus, lagi-lagi masuk sambil tiduran ke dalam mesin raksasa itu? Dengungannya membuatnya pusing.

Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang