VOL. [2] - 21 - Tumpukan Karung Terigu

59 7 11
                                        

A/N - Akhirnya! Sumpah klenger ngerjain bab ini 😵‍💫😵. Jauh lebih sulit dr bayangan sy. Thanks udh sabar 🙇🏻‍♀️

Jgn lupa, setelah ini, update 1x seminggu tp lbh panjang per bab (kl klewat, saya udh tulis sebabnya di komen bab sebelumnya). Enjoy 💚
- Kahala -
_______________

Pening.

Bisa-bisanya dirinya terlupa lagi akan semerbak kecut orang ini?

Ibarat konsentrat bau ketiak lintas zaman, dari semua manusia yang enggan mandi selepas berkeringat terjemur matahari, dikumpulkan ke dalam tabung gas; lalu Sumi dipaksa memakai masker hirup yang terhubung padanya.

Keasaman yang begitu pekat memenuhi udara ruangan empat kali lima meter persegi itu, sehingga dapat terkecap di lidah.

Mati-matian dirinya berusaha menekan sensasi ceku di leher; sungguh tidak elok jika dia muntah. Namun, astaga ... mual tingkat dewa!

Sumi memantapkan tekad, melawan jeritan benak untuk kabur dari tempat itu, dan memasuki ruangan.

Setelah tersenyum menanggapi ucapan terima kasih Sumi, agen yang mengawalnya mengatakan akan menunggui di depan pintu, lalu menutupnya dari luar.

Tinggallah Sumi berdua bersama Tjahjo.

Berlawanan dengan ruang observasi di samping, ruangan ini bercat ... entahlah, kelabu muda kekuningan? Hanya terdapat sebuah meja dengan dua kursi di tengah-tengahnya. Tak berjendela, selain cermin satu-arah yang mengisi hampir setengah dinding kiri.

Duh, sulitnya berkonsentrasi dengan ketengikan yang menusuk hidung.

Pria tua itu mengenakan setelan baju tunik lengan pendek longgar, berwarna kuning telur rebus, dengan celana senada.

"Ayo, silakan duduk; jangan malu-malu," bujuk Tjahjo sumringah, mengisyaratkan ke kursi di seberang meja; seolah-olah sedang menerima tamu di rumah sendiri.

Perlahan, Sumi mendatangi dan menarik mundur kursi logam putih itu, terus duduk. Ia bergidik saat dinginnya metal menembus baju dan rok di punggung dan belakang paha.

Hidungnya mengkerut. Intensitas bau kempitan orang itu jauh lebih tajam pada jarak ini! Pengaruh arah semburan penyejuk ruangan, mungkin.

Ditolehnya cermin satu-arah pada dinding di kirinya; permukaannya merefleksikan ruangan beserta dirinya hingga pundak. Mengetahui siapa yang menyaksikan dibaliknya, hatinya sedikit tenang.

Sumi terperanjat ketika mendadak terdengar bunyi kresek dari earpiece alat audio di kupingnya.

"Oke, ya, Mbak Sumi: silakan ngobrol biasa dulu," instruksi Pak Karman.

'Ngobrol biasa' bagaimana? Boro-boro pernah mengobrol dengan si tua bangka ini. Lagipula, masa dirinya yang memulai?

Bibir keringnya membuka. "Apa kabar, Pak Tjahjo?" Mau bertanya apa lagi?

"Baik, Sumi." Mata bulat menonjolnya mencermati wajah Sumi, sebelum turun ke bawah.

Bahu Sumi mengkeret seiring dengan nyalinya.

Mesumnya masih sama! Andai saja dia bawa tas cangklongnya untuk ditaruh di atas meja guna menghalangi.

"Barusan ngantuk, tapi ...." Senyum menyeringai Tjahjo melebar; sepasang gigi seri emasnya memantulkan cahaya lampu gantung halogen ganda di atas mereka. "... Mas sekarang seger lagi liat kamu."

Idih. Pikun? 'Mas' dari mana? Padahal dia teman kecil ayahnya Bapak.

Ocehan Tjahjo berlanjut, "Dulu, kamu cantik; sekarang, udah nambah yang lain; tau, nggak, apa?"

Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang