VOL. [1] - 35 - Siap Digoreng

55 6 4
                                        

A/N - Udh bbrp bab berasa tegang, ya? Sabar, ya. Kita kawal Sumi smpe akhir. Enjoy ❤️
- Kahala -
____________

"Mila," panggil Sumi.

"Ya, Mbak," jawab yang dipanggil seraya maju ke depan Sumi. Matanya membola ketika menerima amplop cokelat tersegel. "Makasih, Mbak; passs banget besok kudu bayar SPP."

"Aan, Ani sehat, Mil?" tanya Sumi.

"Sehat, Mbak; bentar lagi naik kelas lima. Moga-moga Mila sanggup sampe adek-adek Mila kuliah kayak Mbak, ya!" ucapnya sebelum berlalu keluar pintu samping warung.

"Nur." Sumi menyebut nama di amplop berikutnya.

Karyawati itu menerima sambil berjingkrak kecil. "Alhamdulillah; makasih, Mbak Sumi."

Polahnya membuat Sumi tersenyum. "Jadi kamu tahun ini daftar SMIP, Nur?"

Nur mengangguk. "InsyaAllah, Mbak. Empat kali gajian lagi, cukup bakalan uang pangkalnye. Udah terakhir tahun ini kesempatanku; deg-degan, sih."

"Eh, iya, betul." Sumi memutar mata ke sudut atas. "Bentar lagi, kan, kamu sembilan belas, ya?"

Diiyakan oleh Nur, lalu pamit menyusul Mila untuk pulang bersama.

"Ria." Amplop selanjutnya diterima oleh sepasang mata berbinar.

"Makasih, Mbak Sumi," ucap karyawati yang cenderung pendiam, kecuali sedang bergosip.

"Masih butuh banyak, nggak, buat lunasin motor mamimu?" tanya Sumi.

"Lumayan, Mbak; nggak 'pa-'pa, yang penting cicilan lancar. Biar Mami jalan terus jualannya," jawab Ria yang tersenyum lebar, lantas permisi pulang.

"Neng." Tersisa dua amplop lagi di tangan Sumi.

"Makasih, Mbak Sumi." Neng tersenyum riang menerima amplopnya. "Yaya udah minta dibeliin batagor dari kemaren."

"Dijaga baek-baek, tuh, Neng." Sumi memajukan kepala sedikit, lalu memelankan suaranya. "Mbak udah tambahin dikit uangnya, buat beli susu Yaya."

Mata Neng melebar. "Beneran, Mbak?? Alhamdulillaaah, makasih banyak, Mbak Sumiii!" Dipeluknya Sumi sebelum ia pun pamit pulang.

"Mbok Mar, ini, Mbok." Sumi menghampiri sesepuh bercepol, yang sedang duduk mengobrol dengan Mbah Ti di meja jati tua besar warung. Diberikannya amplop terakhir ke tangan karyawati terlama warung bakwan.

"Matur nuwun, Mbak Sumi." Mbok Mar menerima amplop yang ditempelkannya pelan sekilas ke dahi.
(Terima kasih)

"Besok nggak usah dateng kepagian juga nggak 'pa-'pa, Mbok," kata Sumi seraya menarik keluar kursi ketiga dan duduk.

"Rak 'po-'po, enak sini; bosen di rumah Mbok sendirian," ucap Mbok Mar yang beranjak menjinjing tas kecilnya. Beliau lalu berpamitan setelah merapikan kebaya kartininya.
(Nggak 'pa-'pa)

"Ono opo (ada apa), Sum?" tanya Mbah Ti tak lama setelah pintu warung tertutup.

Sumi memandangnya penuh tanya.

"Dari hari Senen Mbah perhatiken kamu beda. Sabtu begini, biasanya kamu sumringah karena besoknya jalan sama Nak Andi," cakap Mbah Ti.

Ngilu dada Sumi mendengar nama itu.

"Iki (ini), kok, murung." Mbah Ti menunduk menilik cucunya melalui pinggir atas kacamata. "Berantem?"

Sumi menatap jam dinding di seberangnya. Dalam satu jam mereka harus memulai persiapan untuk warung mie.

Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang