"Ibu nggak ikutan, Mbah?" tanya Sumi berbisik. Ditiriskannya telur ceplok setengah matang yang baru digoreng.
"Katanya emoh (nggak mau); meh nonton wae (pengen nonton aja)." Sesepuh itu berdecak. "Sinetron melulu."
Yah, padahal Ibu suka makan pedes ....
"Perhatikan, yo, Sum. Biar bisa." Mbah Ti meraih centong di panci bumbu basah untuk mulai meracik mie pedas.
"Nggih (iya), Mbah." Sumi fokus dengan seksama. Ia berusaha tak menggubris keberadaan dua lelaki di meja belakangnya. Masih membisu mereka; tidak mengobrol sedikit pun. Tanpa tahu mereka sedang memperhatikannya atau tidak, ia merasa salah tingkah.
Sang sepuh menyuruhnya memasukkan sepuluh bungkus mie instan yang baru matang direbus ke baskom dengan bumbu bawaannya. Dilihatnya yang dilakukan Mbah Ti.
Pertama, ditambahkannya kecap asin, minyak bawang khusus, kecap manis; diaduknya hingga rata. Berikutnya, masuk sepuluh sendok racikan bumbu cabe basah. Aduk rata kembali. Terus, seperlima mie dipisahkan ke mangkok besar. Inilah level satu.
Sisanya ditambahkan delapan sendok bumbu cabe kering. Sumi ingat kemarin neneknya menyiram minyak panas ke tumbukan cabe kering saat membuatnya.
Kemudian, bumbu cabe basah kental merah terang dengan proporsi yang sama disiramkan. Setelah rata, disisihkan seperempat; menjadi level dua.
Begitu terus diulang hingga tersedia lima mangkok besar. Terakhir, tiap mangkok besar itu ditaburi bawang goreng dan rajangan daun bawang.
Gajah melarikan diri ke dalam rumah setelah bersin-bersin mencium bau cabai pekat memenuhi warung.
Bagi Sumi, aromanya sedap sekali; menitikkan air liur dan menggoda perutnya berkerucuk. Ia berdoa agar tidak sampai bersuara seperti terakhir bersama Andi.
Mbah Ti memintanya membantu membawa hidangan ke meja. Kelima mangkok besar tadi, sepiring berisikan telur-telur ceplok setengah matang, dan semangkok berisi tumpukan bakso diletakkan kedua wanita itu di atasnya. Tampak penuh dan menggiurkan.
"Ini, Bang. Silahkan ambil lauk dan kerupuknya berapa pun." Sumi menaruh sepiring kerupuk-kerupuk putih ketika kedua wanita itu akhirnya duduk. "Kalo ini kurang, nanti aku ambil lagi dari kalengnya."
"Iya, makasih," jawab mereka kompak; membuat mereka bertatapan sekilas, sebelum tersenyum kepada Sumi.
Kesinkronan keduanya kocak bagi Sumi; ia mungkin cengengesan jikalau situasi tidak sekikuk ini.
"Kita makan bertahap, yo? Kalau sudah tidak sanggup naik level, bilang." Mbah Ti menuangkan es teh manis, lalu mempersilahkan ketiganya memulai.
Masing-masing mengambil lauk dan mie pedas level satu.
Suapan pertama.
Pedas; itu kesan pertama Sumi. Tetapi, enak sekali; asin-manis dan gurih. Setelah suapan kesekian, mulai harus berhenti dan diselingi minum. Lidahnya sedikit kesakitan; bibir atasnya mulai perih.
Mbah Ti tampak tenang menghabiskan; begitu pula Andi dan Jaka, yang tampak menikmati.
"Habis semua?" Mbah Ti melihat ke sekeliling meja. "Hayo, lanjut level dua."
Mie dari mangkok kedua diambil masing-masing; lanjut makan.
Jauh lebih pedas dari yang pertama, kesan Sumi. Satu kata yang terpikir olehnya: nyelekit. Lidahnya sedikit kebas; kupingnya seperti menuli.
Dia memutuskan tak akan lanjut ke level tiga. Digigitnya kerupuk untuk meredam pedas sambil memperhatikan yang lain.
Mbah Ti tetap terlihat tenang dan menikmati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]
Romance[𝚅𝚘𝚕. 𝟷 𝙳𝙾𝙽𝙴] Mahasiswi UI, Sumi, dipaksa ibunya pakai kebaya, sanggulan, dan berdandan layaknya ke kondangan enam hari dalam seminggu. Itulah tradisi bisnis bakwan pusaka keluarganya terlepas panasnya Jakarta Timur. Hal yang kerap mengundan...
![Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]](https://img.wattpad.com/cover/346097787-64-k421294.jpg)