Mata Sumi beradu dengan Bimo yang berdiri di samping belakangnya, dengan tangan terselip di saku celana setelan jas hitam berdasi.
Lelaki itu mengangguk kecil padanya; tersenyum simpul. Lantas, berbalik dan keluar dari ballroom; diikuti banyak pasang mata mahasiswi sekitar Sumi yang mendengarnya tadi.
Sumi mendengkus.
Heran. Kok tak sedikit wanita yang terpukau; bagai tersihir melihat Bimo. Kenal saja tidak; kok bisa mereka tertarik hanya karena kelebihan fisik lelaki itu? Atau, mungkin statusnya yang dianggap menggiurkan?
Apa gua yang abnormal?
Ditepisnya pikiran tak berfaedah itu; ia mesti fokus saat ini. Si gadis menghadap layar laptop kembali, dan menghela napas dalam-dalam. Jemari kanannya bersiap di permukaan touchpad.
Salah satu penyelenggara memberi instruksi, "Oke, pada aba-aba saya: silahkan dimulai!"
* * *
Ngaku, apa biarin aja?
Sumi, untuk kesekian kalinya, berada di antara dua keputusan sulit. Memang, sesuatu yang impulsif kadang membawa penyesalan berulang kali di masa depan.
Setelah menimbang-nimbang selama beberapa menit, ia memutuskan untuk jujur saja nanti.
"Mi, beneran nggak bagus trik itu?" tanya Daru yang duduk di kursi hitam sampingnya.
Sumi menoleh. "Bukan nggak bagus, Ru; tapi nggak nyambung menurut gua. Kalau ngadepin audience bejibun baru cocok. Lah, ini cuma dua biji?"
Daru menghela napas, lalu bersandar. "Betul kata lo, sih. Aneh kalo gua bayangin mereka bugil, karena bakal depan gua persis."
Sumi mendengkus tawa. "Udah, Ru, kita apa adanya aja. Yang tegang nggak cuma lo, kok; gua juga; liat, tuh, yang laen."
Daru mengedarkan pandangannya kepada tujuh mahasiswa-mahasiswi yang duduk menunggu di kanan dan kiri mereka. Ada yang komat-kamit, entah berdoa atau baca mantra; menghentak-hentakkan pelan sebelah tumit; berkali-kali menyesap dari botol air mineral; memilin-milin jari.
Sumi mengecek arlojinya; jam empat kurang di sore hari. Mereka sedang menunggu giliran satu per satu dipanggil ke dalam ballroom untuk wawancara akhir. Dia masih tidak percaya sudah lolos sejauh ini.
Saat wawancara beregu setelah makan siang, dia mengira tidak akan lolos. Penyelenggara hanya memanggil dua puluh nama mereka, yang kemudian dibagi menjadi empat kloter regu. Tiap regu bergantian dipanggil masuk ke dalam ballroom.
Masing-masing kandidat dalam regu diberikan dua puluh lembar informasi dan data identik; studi kasus. Mereka mendapatkan kesempatan selama sepuluh menit untuk berdiskusi. Sebagai tim, diminta merumuskan solusi dari prompt pertanyaan yang dilempar salah seorang dari empat staf Buana Prasta Consulting.
Sumi hampir tidak dapat kesempatan menggagaskan ide; sebatas banyak mendengarkan, menanyakan, serta mendiskusikan opini dan saran teman-teman seregunya.
"Handaru," panggil satu karyawan yang membuka sebelah pintu ganda ballroom. Bersamaan dengan itu, seorang mahasiswa berjalan keluar darinya dengan lunglai, dan langsung menyusuri lorong ke arah lobi.
"Doain, ya, Mi!" bisik keras Daru seraya bangkit, setelah mengaku dia terpipis sedikit mendengar namanya dipanggil.
Sumi mengiyakan; tersenyum menguatkan sahabatnya, dan melakukan sesuai janji.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]
Romance[𝚅𝚘𝚕. 𝟷 𝙳𝙾𝙽𝙴] Mahasiswi UI, Sumi, dipaksa ibunya pakai kebaya, sanggulan, dan berdandan layaknya ke kondangan enam hari dalam seminggu. Itulah tradisi bisnis bakwan pusaka keluarganya terlepas panasnya Jakarta Timur. Hal yang kerap mengundan...
![Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]](https://img.wattpad.com/cover/346097787-64-k421294.jpg)