VOL. [1] - 39 - Fermentasi

60 6 4
                                        

"Bimo??"

Ibu, Mbah Ti, dan Bimo menoleh ke arah Sumi di batas ruang tamu.

Yang dipanggil tersenyum santai. "Hi."

Busana Bimo persis seperti kali pertama keduanya bertemu: blazer berkemeja, dan jeans. Apa dia selalu serapi ini di akhir pekan?

Kaki Sumi bagai terpatok di ubin ruang tamu. "Kok ...? Ngapain di sini?"

"Eh, Nduk, udah sampe." Ibu terlihat sumringah. "Sini duduk." Ditepuk-tepuknya bantalan duduk bangku jati panjang di kirinya, persis di dekat kursi serupa yang diduduki Bimo.

Dengan langkah setengah terseret, Sumi menuruti. Walau menghindari bersitatap dengan lelaki itu, wajahnya dipaksakan netral. Sebab, biar bagaimanapun, Bimo adalah tamu.

Hening untuk beberapa saat.

"Kamu nggak pernah cerita kalo kamu kenal sama si Mas ini, Nduk?" Ibu memiringkan badan ke depan.

Kalau tidak sedang tegang, Sumi pasti akan mendengkus tawa. Sungguh panggilan yang tidak pas untuk Bimo.

Sejenak, Sumi memilih kata-katanya. "Bukan, Bu. Ini ... atasan Sumi waktu magang." Dia bisa merasakan mata Bimo padanya.

"Lha, kata mbahmu pernah sekali dateng malem-malem? Ya, to, Mbok?" Ibu menengok ke Mbah Ti, yang duduk di kursi seberang meja dari Bimo.

Sumi memandang neneknya yang mengiyakan Ibu. Ekspresi sesepuh itu sukar dibaca. Apa yang telah didengarnya? Sudah bicara apa saja lelaki ini?

Mau tak mau, ia bertanya. "Anu, ada maksud apa ke sini, ya?" Dibalasnya tatapan Bimo.

"Gini, Nduk," potong Ibu ketika Bimo baru membuka mulut. "Si Mas-e ini--"

"Ehm, nggak 'pa-'pa, Tante Keti; biar saya sendiri yang jelasin ke Sumi," sela Bimo disertai senyum hangat kepada Ibu, yang langsung senyam-senyum salah tingkah.

"Kalo gitu, kita ke dalem dulu, yo, Mbok?" Ibu membantu Mbah Ti berdiri. "Jangan diganggu ini, dua sejoli."

Punggung Sumi menegang. Dia mau ditinggalkan berdua saja?

Buru-buru Sumi beranjak. "Anu, Bu, Sumi siapin minuman dulu bua--"

Ditolak mentah-mentah oleh Ibu, sebelum beliau meninggalkan ruang tamu dengan Mbah Ti.

Sumi terduduk kembali.

"Miya, aku--"

"Ada perlu apa?" Sumi meliriknya tajam, tangannya mengepal gemas di pangkuan. "Dan, kamu abis ngomong apa aja ke keluarga saya?"

Bimo tersenyum miring. "Miya ..., kamu galak begini, aku makin suka."

Orang gila ....

"Well, aku belom bilang ke mereka, tentang perasaanku ke kamu. Tapi, kayaknya mereka simpulin sendiri," ujar Bimo. "And, aku ke sini ...."

Ucapannya yang menggantung membuat Sumi menoleh padanya.

"Well, hari ini Daru nelpon aku."

Jantung Sumi seakan copot.

"Daru?" Dahinya berkerut. "Dia ngomong apa" tanyanya cepat.

Bimo menumpukan kedua lengan pada lututnya; tangan tertangkup. "Utang keluarga kamu."

Sumi ternganga.

Sial! Daruuu!!

"Miya, let me help."
(Izinin aku bantu)

"Nggak," jawab Sumi tegas, benaknya sibuk mengganyang Daru dalam khayalan.

"Why?"

"Maaf, Bimo; tapi, ini nggak ada sangkut-pautnya sama kamu. Ini urusan keluarga saya." Postur Sumi yang tegak kontras dengan telapak tangannya yang mendingin.

Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang