VOL. [1] - 9 - Adonan

160 8 6
                                        

"Pagi, Non." Sepasang lesung pipit muncul menyapa Sumi.

Perlu beberapa saat untuk Sumi mengenali orang itu.

"Bang Andi?" Ia menunjuk busana Andi. "Tumben ...."

Andi melirik ke kemeja kotak-kotak birunya dengan bagian lengan panjangnya yang tergulung rapi. "Nggak seragaman?" Makin dalam lesung pipitnya. "Libur."

Sumi memperhatikan ada brewok-brewok tipis kini membingkai rahang lelaki itu, dan ... ternyata dagunya belah. "Hari kerja?"

Andi mengangguk; kedua jempol tangannya dicantolkan ke saku-saku jeans-nya. "Justru karena weekend (akhir minggu) rame, saya ambil libur hari kerja."

"Oh, iya juga," balas Sumi. "Bang Andi mau naek kereta?"

"Nggak; saya kadang duduk aja di stasiun lihat orang mondar-mandir."

Itu hobi?

"Boleh nyender sebelah kamu?" Andi menunjuk ke bagian dinding sisi Sumi.

"Oh, silahkan, Bang."

Gaung pengumuman stasiun menyela percakapan mereka.

"Mau kuliah?" Dagu Andi menunjuk ke tumpukan buku teks yang dipeluk Sumi.

Sesaat Sumi menimbang untuk jujur atau tidak. "Tadinya."

"Batal kelasnya?"

Sumi menggeleng pelan; menunduk.

"Kamu nggak ada ongkos?"

Sumi tertawa ringan; selapis himpitan hatinya terangkat. "Nggak, Bang, ada kok, ada."

Andi mesem-mesem. "Bolos, nih, berarti?"

Sumi menoleh ke Andi, lalu mengangguk dan tersenyum lebar.

"Kenapa; lagi patah hati?" Andi menyilangkan lengan di dada; pandangannya lurus ke depan.

Dih, kepo, deh.

"Nggak; banyak pikiran aja."

"Lah, Non; kalo mikirin saya jangan segitunya; ini udah ketemu."

Kali ini Sumi tertawa lepas.

Males banget ....

"Baru liat kamu ketawa kayak gitu," celetuk Andi. "Di warung kamu beda banget."

Sumi memalingkan muka setelah menangkap tatapan hangat Andi. "Iya, ya? Yah, maklum, Bang; namanya juga jualan."

Andi mengangguk-angguk. "Tuntutan imej warung, ya? Berat pasti."

Sumi tertegun menatap Andi. Ini cowok yang sama, nggak, sih?

Tanpa diundang, terdengar suara kerucukan dari perut Sumi. Ia membelalak.

Bikin malu ....

Andi tertawa kecil. "Lho, kamu belom sarapan, Non?"

Belom, ya? Masa lupa?

"Belom, kayaknya?" Sumi terkekeh kikuk.

"Ya sudah." Andi melangkah ke hadapan Sumi. "Saya traktir, yuk."

Sumi menggeleng-geleng cepat. "Eh, nggak usah, Bang; ntar saya bisa makan sendiri, kok." Ia memberi isyarat tangan menolak.

"Ada bubur ayam enak, lho, deket luar stasiun. Saya juga belom, kok, Non; jarang-jarang saya ada temen makan."

Emangnya nggak punya temen? Kesian amat.

Sumi menduga dirinya tahu bubur ayam yang dimaksud; sudah lama dia tak beli; dan memang enak rasanya. Enak banget malah.

Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang