VOL. [1] - 22 - Pedas Itu Seru (Part 1)

86 5 2
                                        

A/N - Maaf, nih, telat sehari. Lagi sakit. Kukasih 2 bab sekalian, noh. Enjoy ❤️
- Kahala -
_______________

Sumi mengernyit. Kenapa dia di sini??

"Gitu amat nyapanyé, Sum?" timpal Jaka, yang lantas tertawa kecil.

Otomatis Sumi menelisik mata Jaka. Ia melepas napasnya yang tertahan. Ternyata, sudah balik ke temperatur normal.

Namun, leganya segera berganti menjadi dongkol.

Sekarang aja lo ketawa-tawa. Nggak inget kemaren gimana ke gua?

Sumi bergeming di rongga pintu.

"Kok di sini, Jak?" Ia beri penekanan pada sebutan namanya.

Mata dingin Jaka menatapnya. Lalu, lelaki itu tersenyum santai, yang langsung membuat jantung Sumi melonjak terlepas usahanya untuk berkesan tak acuh.

Sial.

Sial, sial, sial.

Ditambah busana Jaka yang tak seperti biasanya sejak dia kembali: sarungan dan berkemeja tangan pendek. Kemeja yang, walau longgar, justru mengaksentuasi kebidangan otot dada, bahunya, dan ....

Sumi lekas memunggungi Jaka; memejamkan mata dan bergeleng cepat.

Asem. Bisa mimisan gua ....

"Kamu kenapé?" tanya Jaka.

Pake nanya, lagi.

"Aku boleh masuk?"

Kok, malah dia yang muncul, sih?

"Sum?" Mbah Ti menilik dari ujung dalam warung. "Joko, to? Kok rak (nggak) disuruh masuk?"

Sumi bergeser dari pintu dan mengisyaratkan Jaka untuk masuk. Tak berani dia beradu pandang ketika melihat Jaka bergeming sesaat, sebelum melangkah ke dalam warung.

Beneran nggak pernah sehat buat jantung, 'ni cowok!

"Cepet nyampenya, to, Nak Joko?" sambut Mbah Ti sambil mengelap gelas.

"Iyé, Nyai. Tadi langsung ke sini abis maghriban." Jaka menghampiri Mbah Ti. Mereka lantas mengobrol.

Mbah Ti yang ngundang?

Sumi duduk di sudut warung di seberang ruangan. Telapak tangannya dingin; dia tak bisa berkonsentrasi merekap penjualan warung hari itu. Tiap beberapa saat, dia mengecek jam dinding.

Dia bakal dateng bentaran lagi, nih. Gimana kalau Jaka salah sangka? Kok Mbah nggak bilang ngundang Jaka juga??

Gadis itu berusaha melanjutkan lagi menjumlahkan total angka pada kertas-kertas ganda nota penjualan. Dia ingin segera menyelesaikan sebelum mulai kegiatan malam nanti.

"Kamu lagi apé?"

Suara bariton itu terdengar bagai guntur bagi Sumi. Jadi, tampaknya sempat sukses dia berkonsentrasi; sampai-sampai tidak menyadari Jaka sudah di sebelahnya.

Gadis itu mendongak ke kiri. "Anu, ini ...," ia gelagapan, "rekap omset." Ia menunduk kembali ke buku penjualan begitu bertemu pandang dengannya.

Kenapa gua jadi nggak sanggup lihat mata dia gini, sih??

Jaka menopangkan kedua lengan kekarnya di sisi kiri meja kecil itu. "Gede hari ini?"

"Lumayan." Sumi merapikan sisa tumpukan sepertiga kopi nota yang belum direkapnya. "Rada lebih banyak dari biasanya." Mana bisa fokus dengan Jaka di situ sekarang??

Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang