VOL. [1] - 25 - Jelantah

73 5 16
                                        

"Hati-hati kenapa, Bunga?" tanya Sumi dengan hati deg-degan.

"Centeng-centengnya Pak Tjahjo kayaknya mau ke sini. Kemaren temen kerjaku ada yang cerita: dia suka banget sama mie pedes Kakak. Nah, mereka tertarik nyoba, tuh," tutur Bunga; untuk kesekian kalinya mencabut secuil bakso yang nyangkut di kawat giginya.

Sumi membisu.

"Malesin, deh, Kak. 'Dahlah becandanya pada nggak sopan; terus towal-towel." Bunga menyedot soda gembiranya sambil memandang Sumi. "Gimana kalo liat Kakak yang cakep bahenol gini."

"Iya, Kak," sambar Ayu, "biar toge gitu diapain, sih?"

"'Dah bawaan lahir, kali," cetus Tari.

Ketiga perempuan mungil itu pun saling melemparkan teori-teori absurd, sampai-sampai salah satu pembeli di meja sebelah tersedak.

Sumi menahan tawa geli.

Buset .... Bening-bening ngomong pada kagak diayak.

"Pokoknya kalo mereka dateng, usir aja, Kak! Atau langsung tutup aja," saran Bunga yang menyeka mulutnya dengan tisu.

Ye ..., bijimane. Dikira jualan buat iseng kali.

Sumi terpekur. Apakah bijak menolak pembeli? Kecuali mereka berbuat onar, 'kan? Nama baik bisnis dipertaruhkan jika pembeli mengalami pengalaman negatif. Ulasan daring bisa membunuh bisnis apa pun.

Ah, nanti sajalah, dia pikirkan bagaimana strategi terbaik jikalau benar yang dikatakan Bunga.

Mungkin, Sumi akan diskusikan juga dengan Andi. Masukan-masukannya selalu berguna. Tak sabar dia untuk mengobrol dengan lelaki itu lagi.

* * *

Ada satu hal lain yang mengganggu pikiran Sumi selain tes magang yang mendekat: mulai mencicil utang. Sedikit demi sedikit, ia telah menyisihkan sebagian profit jualan bakwan, dan seluruh profit jualan mie selama sebulanan terakhir.

Memang, jumlahnya baru setengah persen dari total utang milyaran itu; namun, masih lebih baik daripada dianggurkan tak dibayar-bayar.

Sabtu pagi inilah dia akan bertandang ke rumah Tjahjo. Tidak enak sekali mesti membawa berikat-ikat uang tunai. Sumi berencana menanyakan Tjahjo akan rekening yang bisa ditransfer agar mudah kedepannya.

Sambil berjalan kaki, ingatan interaksinya dengan pria bangkot itu di warung cendol bulan lalu diulang terus. Tjahjo telah menunjukkan dengan jelas ketertarikannya pada gadis itu. Membayangkan kemungkinan interaksi serupa membuatnya eneg.

Semakin dekat dengan rumah tujuannya, semakin diseret langkahnya. Keharusan yang menyebalkan; tetapi, tak baik ditunda. Ibarat membersihkan minyak jelantah hasil menggoreng bakwan seharian di penghujung hari.

Andai saja dia bisa bertamu diiringi  dukungan moral. Mbah Ti masih tidak enak badan; Sumi pun tidak tega memintanya menemani kalaupun sedang sehat. Lagi-lagi, sesepuh itu melarang Ibu untuk turut serta; bahkan, untuk berkomunikasi maupun bertemu dengan Tjahjo lagi.

Pagar bercat emas rumah itu terbuka lebar; seakan menyiratkan siapa pun yang datang untuk masuk tanpa keraguan. Sumi melangkah menuju teras pintu masuk rumah.

Di situ duduk dua orang laki-laki sedang bermain kartu remi di meja kaca. Salah seorang dari mereka--dengan pipi bercodet--mengangkat wajahnya ketika gadis itu mendekat dengan langkah tak pasti.

"Cari siapa, Mbak?" tanyanya dengan senyum ramah.

Pria yang satu lagi--dengan rokok dijepit bibirnya--menoleh juga ke arah Sumi.

Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang