A/N - Makasi kamu terobos bab sebelumnya. Hebat 👍🏻 Napas dikit bab ini, ya. Rada panjang, nih. Enjoy ❤️
- Kahala -
__________
"Yeah?" Bimo menoleh padanya, sambil masih mengacak-acak rambut lembabnya usai mandi.
Sumi tertegun, memperhatikan Bimo; pahatan raganya yang dibingkai kemeja hitam tak terkancing. Merasakan, untuk pertama kalinya sejak kemarin pagi sekembalinya dari kampung: degup jantungnya meningkat.
Dia ... merasa.
Eh?
Wajar, dong? Memangnya tadi dia tidak merasa?
Begitu terpakunya dia, sampai-sampai tidak menyadari bahwa Bimo pun memperhatikannya. Satu sudut bibir lelaki itu tertarik ke atas.
"Kenapa, Sayang?" Bimo berjalan pelan mendekati sisi ranjang Sumi. "Kamu nggak ganti baju?"
"Hah?" Sumi mengejap-ngejap. "Mau ke mana?"
"Ke resto yang aku bilang tadi? Kapan lagi sempet ke Semarang?"
"Oh? Betul."
Kapan dia ngomongnya?
"Well, come on, then?" Bimo memiringkan kepala. "Ganti baju?"
(Ayo, kalo gitu)
Menurutinya, Sumi turun dari ranjang, berjalan melewati Bimo.
Lengannya dicekal suaminya.
"Sini bentar ...." Bimo menariknya ke dalam pelukan, membuat Sumi terkesiap sebab mendadak menempel tubuh tegap itu.
Sumi mengernyit. "Bim?"
"Biar kita begini sebentar, Sayang." Bimo mempererat dekapannya.
Kulit dada bidang Bimo yang hangat menempel pipinya.
Sepintas ada ingatan ... di Jakarta, bukan? Entah kapan, tapi dia ingat reaksi dirinya terhadap Bimo membingungkannya.
Tunggu, kalau tidak salah ... benaknya menolak; tapi badannya menerima?
Eh? Nolak?
Suaminya sendiri?
Kan, dia sudah lama suka Bimo dari kecil?
Makanya mereka menikah, 'kan?
Sumi menutup kencang matanya; pening.
"Miya, look at me."
(lihat aku)
"Iya?" Sedikit meringis dari sakit kepalanya, Sumi mendongak.
Ah. Mata itu. Kelam bak lautan dalam. Mata yang selalu membiusnya; yang dari SD membuatnya deg-degan.
Yang membuatnya penasaran sejak mereka jalan pertama kali; kulineran malam di Blok M.
"Kamu masih punya aku, oke? You're not alone." Bimo mengelus-elus punggungnya.
(Kamu nggak sendirian)
Sendirian? Dia nggak pernah sendirian, 'kan? Selalu ada Bimo, yang sabar dengannya; partner diskusinya, terutama setiap dia butuh saran apa pun.
"Kamu nggak perlu takut. Ada aku. Rely on me; bersandar padaku, oke?" Suaminya tersenyum hangat.
Benar. Itu dia; yang selalu Sumi rasakan bersamanya. Tempat bersandar.
Menggantikan posisi Bapak yang ... yang ... eh, Bapak kenapa?
Ah, nantilah. Dia hanya ingin terus terbius mata itu, yang terus membuat hatinya berdesir-desir.
Bimo mendekap kepala Sumi ke dadanya lagi. "I love you, Miya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]
Romance[𝚅𝚘𝚕. 𝟷 𝙳𝙾𝙽𝙴] Mahasiswi UI, Sumi, dipaksa ibunya pakai kebaya, sanggulan, dan berdandan layaknya ke kondangan enam hari dalam seminggu. Itulah tradisi bisnis bakwan pusaka keluarganya terlepas panasnya Jakarta Timur. Hal yang kerap mengundan...
![Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]](https://img.wattpad.com/cover/346097787-64-k421294.jpg)