VOL. [1] - 31 - Telur Pecah

88 7 5
                                        

Pintu lift berdenting terbuka. Lantai basemen.

Bimo mengeluarkan ponsel dari saku kiri setelan jasnya, dan mempersilahkan Sumi keluar lift ke ruang transisi kecil.

Sumi melihatnya mengatur-atur sesuatu di aplikasi ponselnya.

"Oke, AC udah saya nyalain biar kamu nyaman," Bimo mengabari.

AC?

Sumi mengikuti Bimo berjalan keluar pintu kaca ruangan itu ke basemen yang pengap dan panas. Tidak banyak mobil yang tersisa di parkiran jam segitu.

Bimo menghampiri sebuah mobil yang bingkai lampu depannya menyala putih, seakan menyapa ketika mereka mendekat. Plat nomornya hitamnya bergaris biru. Sebuah SUV hitam besar yang sangat mengkilap.

Serius. Mengkilap.

Tak pernah sebelumnya Sumi melihat cat mobil yang tampak basah seperti air.

Range Rover, batin Sumi membaca tulisan di kap mesin.

Bimo membukakan pintu untuknya, menunggu hingga Sumi duduk; sebelum menaruh seluruh tas mereka di bangku belakang. Ternyata, yang dimaksudnya tadi adalah AC mobil; kabin mobil kini sudah sejuk.

"Kata Daru, deket Stasiun Jatinegara?" Bimo mengetuk-ngetuk layar touchscreen besar di tengah dashboard, tampak mengatur navigasi.

Sumi mengiyakan singkat; masih takjub dengan ukuran layar yang menyamai laptop standar itu. Juga proyeksi hologram jalur navigasi di kaca depan bagian kemudi. Wangi khas jok kulit terhirupnya. Namun, tak seperti bau yang dikenalnya; ini lebih ... elegan.

Sungguh, ia mendadak merasa kerdil.

Setelah memastikan Sumi tersabuk, Bimo memulai perjalanan.

Baru saja keluar ke Jalan Gatot Subroto arah Cawang, sudah mengantri bersama barisan abstrak kendaraan. Pancaran merah lampu-lampu rem mengular memupuskan asa. Maklum, arus balik jam selesai kantor.

Di menit-menit awal keduanya membisu; sesuatu yang disyukuri Sumi. Mungkin lebih baik begini; mengingat setiap kali mereka bertukar kata, selalu berujung perdebatan. Toh, ada alunan musik jazz instrumental yang mengisi kekosongan.

"So (jadi)," Bimo akhirnya bersuara, "tinggal sama keluarga?"

"Iya. Sama ibu saya."

"Ibumu kerja?"

"Nggak. Kita punya usaha keluarga."

"Oh, nice. Bisnis apa?"

Sumi menjelaskan tentang warung bakwan dan mie keluarganya.

"Dan udah berlangsung empat puluh tahunan?" Bimo menaikkan kedua alisnya. "Cool (keren)."

Mereka membisu lagi. Sumi menegakkan duduknya; otot-ototnya kaku. Canggung sekali. Mungkin jika ia memfokuskan perhatiannya pada keempukan kursi kulit cokelat kemerahan yang ditempatinya, akan mengurangi ketidaknyamanannya.

"Nggak 'pa-'pa saya ganti ke radio? Lagi jam berita," tanya Bimo yang menoleh ke Sumi ketika mereka mengantri lama di lampu merah.

"Oh, terserah?"

Kan, mobil lo, ya?

Telunjuk Bimo mengetuk-ngetuk layar besar itu lagi; mengganti tampilan layar ke pilihan ikon-ikon menu. Kemudian, siaran berita terdengar dari speaker mobil dan senderan kepala Sumi.

Sumi mengamati antrian pengendara motor yang semakin bertambah di sela-sela kanan dan kiri mobil, sementara telinganya berfokus pada topik- topik berita.

Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang