"Miya, kamu gemetaran lagi." Hangat tangan Bimo membungkus kepalan Sumi di pangkuannya. "Setakut itu?"
Tatapan Sumi kosong ke dashboard mobil. "Bimo." Mulutnya kering. "Jalan masuknya--sampe depan rumah--sepanjang jalan masuk UI Depok."
Bimo tertawa kecil. "So?"
(Terus)
Gadis itu meliriknya. "Anu ...." Ia menyipit. "Kamu terlalu sultan buat aku yang jelata?"
Bimo tertawa renyah sekarang. "Kamu lucu, Sayang."
Ternganga mulut Sumi.
"Bim ...." Kepala Sumi bergeleng pelan. "Jangan." Kelopak matanya menyempit lesu. "Plis."
"Why not?" Senyum miring diulas Bimo. "Nggak akan aku kasih ruang buat kamu raguin perasaanku ... Sayang." Dia tertawa lebih keras melihat tampang kengerian Sumi. "Let's go." Bimo keluar mobil.
(kenapa nggak; ayo)
Dari luar, pintu Sumi dibukakan oleh Bimo; lalu, lelaki itu membimbingnya turun dan--terlepas protes Sumi--menggandengnya. Mereka menaiki tangga teras marmer hitam di muka rumah, hingga ke depan pintu kayu ganda besar penuh ukiran etnik dengan kaca mozaik di tengahnya.
Baru saja Bimo hendak menempelkan jemarinya pada bagian pindai sistem panel di dinding samping pintu, ketika terdengar pintu itu terbuka.
"Bim," sapa seorang pria paruh baya berkulit gelap yang muncul dari balik pintu. Baju safari hitamnya tampak licin dan rapi seperti baru saja diseterika. Senyum tipis mengangkat kumis tebalnya; disertai anggukan sopan. "Tuan udah nanyain."
"Iya, tadi agak lama meeting-nya." Bimo balas mengangguk, dan membalas senyuman. "Sehat, No?"
"Sehat." Mata sayu pria itu beralih ke Sumi. "Sore, Mbak ... Miya?" Dia mengangkat alisnya seraya memandang Bimo lagi.
"Iya, No; tunanganku." Bimo menyentuh punggung Sumi, yang langsung menegang. "Miya, kenalin: Pak Wagino; dia yang ngoordinasi pekerja-pekerja rumah."
Sumi menyapa dan mengenalkan diri. Kemudian, Bimo menggiringnya memasuki rumah besar itu.
Pintu membuka kepada ruang depan berlangit-langit tinggi. Cahaya sore dari tiga jendela besar berlengkung direfleksikan oleh gantungan lampu kristal. Ruang masuknya saja seperti lobi hotel besar, batin Sumi. Mereka mengekor Wagino melintasinya ke sebuah koridor, yang lebarnya muat untuk menjejerkan empat mobil berdampingan.
Koridor itu bermuara ke koridor kedua yang tegak lurus dengannya; melintang panjang ke kanan dan kiri, dengan lebar serupa. Dinding-dindingnya kelabu pucat polos, berhiaskan timbulan list-list gipsum persegi panjang.
Di seberang pertemuan dua koridor adalah bukaan ke sebuah ruangan yang luas, tampak tingginya hingga ke atap. Satu sisinya terdapat jendela-jendela raksasa bergorden, yang tingginya juga hingga ke langit-langit, menghadap ke taman.
Setara dengan jendela adalah pilar-pilar pipih persegi tinggi menjulang; yang tertanam di dinding; membingkai bukaan-bukaan ruangan ke koridor tadi, ke ruangan lain, dan koridor lantai dua.
Sumi terpana; ruangan itu sendiri bisa jadi seluas rumahnya. Risau menyusupi hatinya, perihal apakah busananya--blus simpel dengan rok panjang--bahkan pantas untuk masuk gudang rumah ini sekalipun.
Setelah menanyakan ingin minum apa kepada keduanya, Wagino mohon izin, "Saya ke Tuan bilang kamu udah di ruang tamu, ya, Bim." Bergegas ia menghilang ke koridor panjang tadi.
Bimo menggandeng Sumi hingga duduk di salah satu dari tiga sofa pastel panjang-panjang. Jasnya dilepas; disampirkannya di senderan sofa. Dasinya dilonggarkan, dengan kancing kemeja teratasnya dilepas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]
Romansa[𝚅𝚘𝚕. 𝟷 𝙳𝙾𝙽𝙴] Mahasiswi UI, Sumi, dipaksa ibunya pakai kebaya, sanggulan, dan berdandan layaknya ke kondangan enam hari dalam seminggu. Itulah tradisi bisnis bakwan pusaka keluarganya terlepas panasnya Jakarta Timur. Hal yang kerap mengundan...
![Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]](https://img.wattpad.com/cover/346097787-64-k421294.jpg)