VOL. [1] - 4 - Mekarnya Bakwan Sayur

358 10 4
                                        

A/N - Tahan! Sabar ya; nanti di Bab 5 & 6 muncul cogan lagi 😆
- Kahala -
_________________

"Stasiun berikutnya: Stasiun Universitas Indonesia; next station: Universitas Indonesia Station."

Suara pemberitahuan gerbong KRL Commuter Line menjentikkan Sumi dari kantuknya pagi itu.
(Kereta Rel Listrik pemerintah khusus Jakarta dan sekitarnya)

Pada akhirnya ia hanya tidur nyaris empat jam. Mbok Mar sudah minta dibukakan pagar sebelum azan Subuh; mesti memanaskan minyak lebih awal sebelum mengadon, tegasnya.

Entah kenapa itu terselip dari perhitungan Sumi kemarin. Terngiang teguran Ibu semalam, Sumi terjun membantu; toh, nanggung untuk tidur lagi pun.

Sumi tersadar di depan lututnya ada bapak-bapak tambun yang berdiri memperhatikannya dengan seksama. Kalau saja gerbong tidak sesak dengan komuter Jakarta, ini menyeramkan.

Apa gua ngiler? Mangap? Ketiduran, ya?

Wajah bak bakso rudal itu lantas tersenyum lebar; kumis kasarnya yang seperti kepala sapu ijuk tertarik selebar mulutnya. "Mahasiswi, ya?" tanyanya.

Masih celeng, Sumi mengangguk.

"Kenalan, dong; Mas ntar bisa bantuin tugas kuliahnya." Bapak itu merogoh ponsel dari saku pantalonnya.

Ya elah ..., pagi-pagi ketemu beginian.

Sumi putar otak cari jalan keluar situasi itu ketika akhirnya diselamatkan oleh pengumuman gerbong:

"Stasiun Universitas Indonesia. Hati-hati, pintu akan dibuka."

Secepat kilat Sumi berdiri menubruk bahu si Bakso Rudal; untung saja pintu gerbong tak jauh dari kiri kursinya. Penumpang kereta mulai bertumpahan keluar. Hanya terdengar derapan kaki dan pengumuman stasiun; walau ada satu insiden dimana telinga Sumi menangkap jeritan panik ("Pak! Pak! Sebentar ini KAKI SAYA NGGAK NAPAK!") dari seorang wanita.

Turun tangga stasiun, Sumi sudah tiba di kompleks universitasnya; rumah keduanya. Sarana dimana ia bisa bebas berekspresi, tanpa tekanan untuk melelehkan dirinya agar muat ke sebuah idealisme kuno.

Ibarat dia dapat bebas mekar ke segala arah seperti bakwan sayur saat digoreng; bukan seperti bakwan udang kecil yang cantik bundar mengikuti cetakannya.

Rentetan klakson sebuah mobil di samping trotoar menarik perhatian Sumi di dasar tangga stasiun. Dihampirinya mobil tersebut.

"Halo," sapa yang menyupir setelah Sumi duduk di kursi penumpang depan. "Lecek amat muka lo, kayak tisu bekas."

"Diem, deh ...." Sumi mengucek sebelah mata sembari menguap.

"Begadang?" kulik si pengemudi.

"Dikit; biasa: pesenan."

"Sarapan apa tadi, Mi?"

"Bakso rudal."

"Ada gitu pagi-pagi udah buka?" Si pengemudi berbelok tajam memasuki lajur jalan tanpa ancang-ancang; mengundang klakson marah dua sepeda motor yang mendadak mengerem hampir menubruk.

"Ada di KRL," jawab Sumi sekedarnya. "Kumisan."

"Hah?"

"Ya gitu, deh, pokoknya. Kenapa, Ru; lo mau nyarap dulu?"

"Ho-oh; laper," jawab Daru.

"Belom makan lagi?"

"Kesiangan. Ah elah, lambat bat." Daru menyalip satu mobil dengan tajam.
(banget)

Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang