A/N - Sesuai janji, nih; dan balik 2x seminggu lagi, yak. Enjoy 🧡
- Kahala -
________________
Reruntuhan rumah gosong Mbah Ti gelap gulita; hanya sorotan senter lelaki itu yang menerangi.
Namun, cukup untuk Sumi dan lelaki itu berpandangan.
Aneh melihatnya bersetelan jas dan berdasi, meski cocok sekali.
Lelaki yang masih saja membuat napasnya kacau; yang sebulan terakhir telah menemaninya hampir sepanjang waktu, ketika kognisinya masih bertabir.
(pengenalan dan penafsiran lingkungan)
Kini, kabut tebal itu telah terangkat; bersih sudah lumpur yang mengubur kesadarannya.
Rasanya bagai terbangun dari mimpi yang panjang; mimpi yang terasa jelas dan nyata.
Sekarang, semuanya jernih:
Pemahamannya akan keadaan;
Ingatannya.
Dua bulan kemarin dia hanya berada, melewati kejadian sehari-hari tanpa konteks; tanpa bingkai perspektif yang terjangkar masa lalu, juga kepedulian akan masa depan.
Bebas introspeksi—refleksinya terhadap perasaan dan pikiran—maupun retrospeksi—kontemplasinya akan kenangan silam.
Termasuk tentang lelaki yang mematung tiga meter di hadapannya; segala kenangan manis mereka.
Juga ... yang pahit.
Sumi menelan ludah; asat. "Abang ... ke sini?" Hanya itu yang ditanyakannya, dengan suara yang tak semantap keinginan.
Andi mengangguk; sepasang lesung pipit menyertai senyumnya yang menenangkan. "Semua, Non; bertiga."
"Oh." Suara dalamnya mendesirkan dada; membuat Sumi ingin menghardik diri sendiri.
"Udah inget ... aku?" tanya Andi.
Gantian Sumi mengangguk.
Keduanya membisu.
Andi berdehem. "Kamu nggak 'pa-'pa? Ada cedera?"
Sumi lekas bergeleng.
"Aku panggil mereka sebentar, ya?" Andi maju memberikan senter; jempolnya menunjuk ke belakangnya. "Pada khawatir," ucapnya sebelum berbalik ke arah pintu masuk.
"Abang juga?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Langkah Andi terhenti.
Gemetar kecil merayapi Sumi memandangi punggung lebar itu. Degup jantungnya memacu.
"Tunggu di sini," suruh Andi tanpa menoleh, sebelum berlari keluar rumah.
Meninggalkannya lagi.
Segera setelahnya, terdengar derap kaki berlari memasuki rumah. Pancaran sinar senter membuatnya menyipit.
"Miya!"
Bimo.
Suaminya.
Lelaki itu, tanpa mengurangi kecepatan, berlutut dan merengkuhnya erat.
Senter-senter mereka terjatuh menggelinding di lantai tegel kuno berlapis puing genting, pecahan rangka kayu mengarang, dan dedaunan bambu bercampur abu.
Lengan Sumi refleks memeluk balik, sesuai kebiasaannya dua bulan terakhir. Samar wewangian maskulin suaminya menggusur aroma pekat khas hutan bambu rumah itu.
Di lain pihak, benaknya mencerna berbagai memori kebersamaan mereka sepanjang periode amnesianya.
Mual mengingat segala perilakunya; sungguh pribadinya berbeda! Walaupun, memang hari-hari itu penuh kebahagiaan .... Entah kapan lagi dia pernah menjalani keseharian yang bebas kegundahan setelah tragedi Mbakyu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]
Romance[𝚅𝚘𝚕. 𝟷 𝙳𝙾𝙽𝙴] Mahasiswi UI, Sumi, dipaksa ibunya pakai kebaya, sanggulan, dan berdandan layaknya ke kondangan enam hari dalam seminggu. Itulah tradisi bisnis bakwan pusaka keluarganya terlepas panasnya Jakarta Timur. Hal yang kerap mengundan...
![Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]](https://img.wattpad.com/cover/346097787-64-k421294.jpg)