A/N : Bab rada panjang dikit, nih, ya. Pipis dulu, ambil cemilan. Enjoy ❤️
- Kahala -
____________________
"Harus ya, bela-belain kuliah tamu Sabtu pagi?" gerutu Daru sambil menguap lebar.
"Habis gimana; dua puluh persen, lho, bobotnya." Rifa mengecek arlojinya.
Sumi menukar tumpukan lipatan kakinya yang mulai kesemutan. Sudah sedari tadi mereka duduk menunggu di lantai ubin lobi gedung dekanat.
Lobi persegi gedung atrium itu biasanya sunyi; dihuni pot-pot besar palem hias, Sri Rejeki, dan Lidah Mertua; serta satpam-satpam ramah hilir-mudik berpatroli.
Pagi ini, ramainya sudah seperti lobi bioskop menjelang tayangan perdana film unggulan. Seratus lima puluh mahasiswa sejurusan angkatan tiga sahabat tumpah ruah menunggu dibukanya pintu auditorium.
"Ya udah, sih; bukannya dipake kemaren pas jam kelas aja." Daru mencabut kabel charger ponselnya dari stopkontak dinding. "Malah dijadiin sesi asistensi segala."
"Keriput itu muka; kesel amat." Sumi cekikikan melihat Daru langsung panik mengecek wajahnya dengan kamera depan ponsel. "Namanya juga dosen tamu, Ru; sibuk, kali? Santai, sih, semester depan terakhir ini."
"Lo pada jadi skripsi?" tanya Daru.
Sumi dan Rifa mengiyakan.
"Temenin gua magang, 'napa? Lumayan, tau, dapet duit." tuntut Daru.
"Kecil, tapi, Ru; nggak sebanding sama kerjanya. Lagian, gua emang pengen skripsi; gua yang ngatur mau topik apa, nulis apa." timpal Sumi sambil membalas sapaan dua mahasiswi yang melintas.
"Yuk; kayaknya udah dibuka, tuh." Rifa memantau para mahasiswa lain mulai bangkit dan berbondong-bondong ke tangga menuju auditorium lantai mezzanine.
Berkebalikan dengan Daru, Sumi tidak keberatan berkuliah pagi itu. Begitu mereka memasuki satu dari tiga pintu ganda ruangan megah itu, sambutan lampu-lampu reflektor tersembunyi langit-langit auditorium menyamai binar matanya. Inilah tempat favoritnya di kampus fakultas.
Sebenarnya, Sumi tidak keberatan kuliah di ruangan apapun; ia sudah senang dapat membaur dengan mahasiswa lainnya; menjadi bagian tak signifikan dari khalayak sejenis ibarat remahan bakwan yang beramai-ramai tersisa di dasar tampah.
Empat tangga membingkai sisi-sisi tiga tribun auditorium; ketiganya membentuk bagai kipas tangan besar. Arus mahasiswa-mahasiswi menuruni tangga-tangga berkarpet abu-abu muda, menyusuri barisan demi barisan tribun untuk menempati kursi-kursi plastik pantekan biru-hitam.
Daru menjadi pemimpin de facto pemilihan kursi tiga sahabat: kursi terpinggir dalam di barisan terbelakang tribun kanan, dekat pintu keluar. Barisan yang menurut Sumi dipenuhi oleh mereka yang berniat tidur, main internet, dan fakir absensi kehadiran.
Bukan pilihan ideal baginya, yang lebih suka barisan terdepan; atau Rifa, yang cenderung mengisi barisan tengah.
Namun, keduanya tak protes; toh, walau berkapasitas empat ratus orang, suara pembicara di panggung bawah mudah terdengar. Penempatan strategis stereo-stereo raksasa di sepanjang dinding-dinding lapis karpet beraksen kayu memungkinkannya.
Atau, mungkin sudah penuh kuota harian mereka menampung keluhan Daru.
Sumi duduk di bangku terpinggir; ia menoleh ketika pintu ganda dibuka. Masuklah tim dosen dan asisten dosen mata kuliah pagi itu bersama dengan si dosen tamu.
Hiruk-pikuk mahasiswa berangsur-angsur berkurang. Rombongan tersebut menuruni tangga kanan tribun tengah menuju barisan depan panggung; sofa-sofa gading tunggal di sana disediakan untuk jajaran fakultas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]
Romance[𝚅𝚘𝚕. 𝟷 𝙳𝙾𝙽𝙴] Mahasiswi UI, Sumi, dipaksa ibunya pakai kebaya, sanggulan, dan berdandan layaknya ke kondangan enam hari dalam seminggu. Itulah tradisi bisnis bakwan pusaka keluarganya terlepas panasnya Jakarta Timur. Hal yang kerap mengundan...
![Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]](https://img.wattpad.com/cover/346097787-64-k421294.jpg)