A/N - Makasih sudah setia & sabar nunggu. Ini secepat2nya saya minggu ini. I wish I could update earlier 🙏🏻 Enjoy ❤️
- Kahala -
_________________
"Lo sinting, Ru??" semprot Sumi. "Apaan, sih??"
"Mi, kan, Pak Bimo suka sama lo." Dari mengangkat kedua tangannya, seakan heran kenapa idenya dianggap aneh.
"Nggak ada hubungannya sama utang ini, Ru."
"Dia anak 'sultan', Mi! Gede utang lo cuma recehan bagi orang kayak dia. Kalo lo jadian sama dia, terus kawin, kelar utang lo."
"Ru, gua suka sama dia aja nggak. Kalaupun gua suka, najis amat gua ngemis kayak gitu. Gua punya harga diri!" Mata Sumi menajam.
"Kalo ada cara gampang, ngapain pake yang susah??" Kedua alis Daru menukik.
"Heh, gua maunya nikah karena cinta; bukan duit!"
Setelah berlangsung beberapa menit, perseteruan dua sahabat dilerai Rifa. Dari tasnya, gadis berhijab itu sigap memberi mereka masing-masing sekeping cokelat bungkusan kecil--yang otomatis dilahap keduanya--dan menyuruh mereka saling memunggungi.
"Gua cuma mau bantu lo nyelesaiin masalah, Mi," gumam Daru.
"Iya; tau, kok." Sumi memainkan sobekan bungkusan cokelat di tangannya. "Tapi gua nggak mungkin rendahin martabat kayak gitu."
"Iya, Mi; gua tau ...." Daru tersenyum kecil; sorot matanya menyampaikan permintaan maaf, yang dibalas serupa oleh Sumi.
Namun, dalam hati, gadis itu tercenung. Perkiraannya, bantalan dari hasil gaji dan bonus magang--akan diberikan akhir minggu ini--hanya cukup untuk menutupi pembayaran upah akhir bulan; serta sedikit pengeluaran rumah dan warung.
Kalau omset tidak segera pulih, bagaimana dia akan mencicil utang bulan ini?
Dia harus bagaimana?
* * *
Bener-bener banjir duit ini perusahaan, ya?
Kemarin sore, Sumi dikejutkan oleh rencana kantor untuk melakukan makan malam perpisahan ketiga peserta magang, pada esok harinya selepas jam kerja. Sehingga, dengan berat hati, dia harus menutup warung mie untuk Jumat malam ini. Tak tega ia biarkan Mbah Ti menjalaninya sendirian, walau sesepuh itu bersikeras.
Suara kunyahan membuat Sumi menoleh. Daru, yang baru saja kembali dengan piring ketiganya, dengan rakus sedang menyantap irisan sapi panggang besar bersaus gelap kental. Sepertinya, sahabatnya bertekad memenuhi pencernaannya hingga ke gerbang masuknya. "Kapan lagi makan buffet mahal, Mi?" kilahnya tadi.
Jangankan prasmanan mahal, Sumi hanya pernah dengan yang gratisan: pada acara kawinan. Kalau makan di keluar dengan keluarga, almarhum Bapak menyenangi masakan lokal; itu pun tak pernah rumah makan mahal. Sepeninggal Bapak, Ibu cuma makan keluar dengan teman-temannya.
Gadis itu mengedarkan pandangannya. Ketika rombongan mereka tiba hampir sejam yang lalu, dia sangat terpukau; rupanya ada, ya, restoran sebesar ini.
Restoran dalam hotel di Jalan M.H. Thamrin itu berdesain nusantara modern; berelemenkan kayu dan marmer; berhiaskan struktur-struktur logam berpola aneka kembang geometris, dan patung-patung etnik.
Ramai sekali. Sepertinya, sebagian besar orang kantoran berbatik; walau banyak juga yang berbusana formal kantor seperti mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]
Romance[𝚅𝚘𝚕. 𝟷 𝙳𝙾𝙽𝙴] Mahasiswi UI, Sumi, dipaksa ibunya pakai kebaya, sanggulan, dan berdandan layaknya ke kondangan enam hari dalam seminggu. Itulah tradisi bisnis bakwan pusaka keluarganya terlepas panasnya Jakarta Timur. Hal yang kerap mengundan...
![Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]](https://img.wattpad.com/cover/346097787-64-k421294.jpg)