VOL. [1] - 11 - Leleran Luar Baskom

131 6 2
                                        

Sumi menggembok pintu akordeon logam muka warung dan mengembuskan napas panjang. Hari yang melelahkan, sekaligus mendebarkan. Tak henti-hentinya ia cengegesan selepas interaksi dengan Jaka tadi.

Ia memasuki rumah dan menutup gorden-gorden; semburat merah mulai terbentang di ufuk barat cakrawala, pertanda masuk waktu Maghrib.

Sumi lalu beringsut ke ruang tengah; Ibu tak lagi di situ. Dentingan piring, gemericik minyak panas dan aroma ikan goreng dari arah dapur menunjukkan keberadaan sang Nyonya.

Baru saja Sumi membuka pintu kamarnya ketika terdengar bunyi bel rumah dari garasi samping.

Siapa bertamu jam segini?

Ia bergegas mengintip dari pinggiran gorden ruang tamu; matanya membeliak.

"Bu! Ibu!" panggil Sumi seraya tergesa-gesa membuka pintu ruang tamu dan berlari--hampir keserimpet karena lupa masih memakai kain--keluar ke teras menghampiri pagar.

"Eh ... cah ayu (gadis cantik)," sapa sesosok mungil di luar pagar.

Sumi melepas gembok pagar dan membukanya; ia bergegas mencium tangan tamu itu. "Mbah Ti kapan nyampe??"

"Lha, ini baru, to?"

Eh, betul.

"Si Mbah sendirian?" Sumi celingak-celinguk ke jalan depan rumah.

"Yo sendiri; sama sopo meneh (siapa lagi)?" Wanita sepuh itu terkekeh. Tangan keriputnya menyentuh pipi kanan Sumi; ia berdecak-decak. "Cantik."

Sumi sumringah.

"Lha, Simbok (Ibu)?? Kok rak ngabari (nggak mgabarin)?" sahut Ibu Sumi dari ambang pintu rumah.

Kumandang azan Maghrib membuat mereka segera menuntun Mbah Ti masuk ke rumah.

"Kok dari tadi sampeyan rak (kalian tidak) ngobrol?" Mbah Ti menyuap bejekan nasi dan ikan goreng setelah mereka duduk di meja makan selepas mandi dan salat.

Bau obat nyamuk bakar di udara bercampur wangi sedap hidangan makan malam di meja. Temaram lampu gantung antik khas Jawa menyinari ruang makan tua itu.

Mbah Ti melirik ke Ibu dan Sumi bergantian. "Sopo sing meteng?"
(Siapa yang hamil?)

Sumi tersedak butiran nasi; sang Nyonya menyemburkan teh manisnya ke hidung.

"Simbok nanyake, kok, yo, ngawur, to." Si Nyonya mengelap mulut dan hidungnya; mukanya ruwet.
(Ibu nanyanya kok sembarangan, sih?)

Sumi terbatuk-batuk pedas dan segera minum.

"Lha; habis dari tadi mingkem wae koyo pitik gering." Mbah Ti menjumput tumis kangkung di piringnya. "Cekcok?"
(Diam aja kayak ayam sakit)

"Mboten, Mbok (nggak, Bu)," jawab Ibu yang menunduk dan merames sambel terasi dengan nasi.

Mbah Ti berdecak. "Ojo (jangan) bohong." Ia mengintip dari balik kacamatanya. "Wong wadon (perempuan) berantem seringe karena wegah ngalah; rebutan."
(Seringnya karena nggak mau ngalah)

Rahang kempotnya berhenti mengunyah; ia menatap lurus ke si Nyonya. "Rebutan lanang (cowok); kowe ojo rebut pacare Sumi; dadi wong tuwo ojo kemaruk."
(Kamu jangan rebut pacarnya Sumi; jadi orang tua jangan rakus.)

Si Nyonya melongo; hampir bergulir keluar kunyahan tempenya. "Astagfirullah ... mboten (nggak), Mbok!" Ia merengut. "Kulo isih (aku masih) muda, to."

Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang