VOL. [2] - 12 - Manis, Asam, Asin

59 7 25
                                        

A/N - Rada challenging nyelesaiin bab ini 😰 Enjoy 💗
- Kahala -
___________

Empat pasang mata tertuju pada lelaki di muara lorong sudut ruang tengah. Siraman cahaya purnama dari dinding kaca ruangan besar itu memantul pada dua benda di tiap tangannya.

Sumi mematung.

Kenapa Andi memegang pistol juga?

"Kalian berdua: ngadep saya," perintah Andi kepada kedua tamu.

Jaka dan pria berkumis mengangkat tangan, dan menuruti.

"Jaket copot; semua senjata di lantai; pistol kosongin; tendang ke saya," imbuh Andi. "Pelan."

"Rajawali Antaka, hmm?" ujar Jaka sinis. "Tahu gitu, dulu saya kelarin kamu."

"Jaka," sapa Andi datar dengan anggukan kecil. "Ketemu lagi. Enak juga denger kamu ngomong logat netral."

"Andi, 'kan? Dua pistol nggak akan akurat," cibir Jaka. "Lebih dari cukup waktu buat saya kalahin kamu."

"Skill kita beda, Bung." Andi tersenyum miring. "Saran saya: jangan nekat jajal."
(Kemampuan)

"Jaka! Turuti dulu!" hardik pria berkumis melihat Jaka nyaris mengambil ancang-ancang. "Paham dia siapa, 'kan? Pikir resikonya!" desisnya seraya menanggalkan jaket kulitnya.

Jaka menengok ke belakang, memandang singkat Sumi yang berdiri memeluk Bimo.

Jantung Sumi berdegup kencang; tidak nyaman sekali; tubuhnya pun gemetaran kecil. Sensasi apa ini? Dia ingin tenang kembali.

"It's okay, Miya. Ayo." Bimo mempererat rangkulannya, dan membimbingnya menjauh ke arah tangga.

"Tuh, Jaka, patuhi atasanmu, dong," kata Andi. "Nekat kena indisipliner?"
(pelanggaran kedisiplinan)

Jaka mengumpat pelan, lalu bersama atasannya melepas magasin peluru dari pistol-pistol mereka, memastikan tiada peluru sisa di dalam kokangan, lalu menendang semuanya ke arah Andi.

"Pisaumu juga." Andi mengisyaratkan dengan dagunya ke Jaka.

Menggerutu, Jaka berjongkok mengeluarkan seperti batang persegi panjang kehitaman dari bawah pipa celananya ke karpet; lalu ditendang juga ke arah lantai kayu tempat Andi. "Terus? Mau bunuh kami seperti orang-orang itu?" tukasnya ketus.

Jantung Sumi melonjak.

Bunuh?

Andi bergeleng. "Saya nggak ada urusan sama kalian; hanya Sumi."

"Apa maunya Antaka sama Sumi?" tanya Jaka tajam, nyaris membentak.

"Sama seperti lembaga kalian; kami mencari orang itu. Tapi, saya setuju dengan Bimo: Sumi bukan dalam keadaan ideal untuk tugas yang kalian minta. Dia harus sembuh dulu," cetus Andi dengan tenang.

"Nggak ada waktu lagi," timpal si Pria Berkumis. "Ini menyangkut keamanan negara."

"Bener, dan siapa yang tahu kapan ingatan dia bakal pulih?" konter Jaka juga. "Bisa-bisa sudah terlambat, bahkan untuk nyawa dia sekalipun."

Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang