"Miya."
Sumi memejamkan matanya kencang. Tak perlu ia berbalik untuk tahu pemilik suara itu.
Apa yang dia pikirkan waktu mengenalkan dirinya dengan panggilan itu beberapa minggu yang lalu? Bagaimana kalau orang kampus dengar?
Nyesel. Sumpah.
"Hai," Sumi tersenyum simpul melihat Bimo menghampiri dan berdiri sejajar dengannya.
Jemari tangan Bimo menyangkutkan jasnya di bahu kanan; lengan panjang kemejanya digulung asal. Mata tajamnya menyipit terpapar matahari tengah hari. "How are you?"
(Apa kabar?)
Widih ....
"Pretty good, thanks. You?" jawab Sumi.
(Lumayan, makasih. Kamu?)
"Same. Kuliah di sini ternyata." Bimo melonggarkan dasinya. "Tingkat berapa?" suara serak-serak basah itu bertanya.
(Sama)
"Empat; semester depan terakhir." Sudut mata Sumi menangkap sekelompok mahasiswi yang tadi ikut mengerubungi Bimo sedang lewat di seberang air mancur ke arah kantin.
Sumi mengenal mereka sebatas nama saja; terpisah kelas sebab beda jauh urutan abjad. Mereka melihat ke arah Sumi. Ekspresi mereka campuran antara penasaran, heran, dan ... iri? Tampak heboh membahas sesuatu.
Apapun itu, Sumi tak ambil pusing; untung mereka terlalu jauh untuk terdengar.
"Presentasiku tadi gimana?" tanya Bimo. "Do you like it?"
(Kamu suka?)
Sumi berpikir sejenak. "Lumayan."
"Sanggahan kamu tadi, good argument, by the way. Walau nggak tepat." Bimo menyelipkan tangan kirinya ke saku celana. "Wajar, sih; kamu minim experience. Terlalu naif."
(Argumen yang bagus; pengalaman)
Sebelah alis Sumi naik.
Asem. Dah bosen hidup, lo?
"Jadi, Head Consultant, nih?" tanya gadis itu.
(Kepala Konsultan)
Bimo mengangguk. "Kenapa? Kaget?"
"Agak."
"Why?"
"Ya, kirain udah tinggi di atas, gitu; atau di anak perusahaan yang lebih besar, atau di holding-nya." Sumi melipat bibirnya. "Buana Prasta ... di bawah Arjasoera?"
(perusahaan induknya)
Bimo menghela napas. "Iya." Ia memandang sepatu kulitnya. "Well, ya, kamu udah tahu, lah, ya, sekarang: saya siapa." Ditatapnya lagi Sumi. "Saya pengen dapet managerial and technical experience sebanyak-banyaknya.
(pengalaman manajemen dan teknis)
"Jadi konsultan, bisa keekspos macem-macem problem bisnis; segala konflik, business projects juga." Jemari Bimo menyisir rambut pendek belah kanannya.
(masalah; proyek bisnis)
Sumi mengangguk-angguk.
"Jabatan CEO grup akan jadi milik saya, anyway. Tapi, saya pengen mereka respect karena prestasi saya yang konkrit di grup." Bimo menyipit memandang langit biru. "Nggak cuma karena ... saya anak si Bos Besar, atau calon the next boss."
(lagipula; hormati; bos berikutnya)
Sumi menyisipkan helaian rambut berterbangan ke belakang kuping kanannya. Ia tersenyum canggung.
"It's a long process; nggak mungkin tau-tau di atas kalo nggak kompeten." Bimo tersenyum tipis, lalu menerawang ke arah air mancur. "Bisa hancur semua hardwork Papa sampe buyutnya."
(Prosesnya panjang; jerih payah)
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]
Romance[𝚅𝚘𝚕. 𝟷 𝙳𝙾𝙽𝙴] Mahasiswi UI, Sumi, dipaksa ibunya pakai kebaya, sanggulan, dan berdandan layaknya ke kondangan enam hari dalam seminggu. Itulah tradisi bisnis bakwan pusaka keluarganya terlepas panasnya Jakarta Timur. Hal yang kerap mengundan...
![Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]](https://img.wattpad.com/cover/346097787-64-k421294.jpg)