"Iki dhodholan (ini jualan) atau rampok?" tanya Mbah Ti dengan sewot. "Regone larang kabeh (harganya mahal semua)."
Sumi meringis meminta maaf dengan tatapannya ke penjual kios cabai dan bumbu di hadapannya. Ibu-ibu tambun itu hanya tersenyum lebar sambil menyusun tumpukan bawang putih.
Maklum, sudah bertahun-tahun Mbah Ti tidak belanja ke Pasar Mester Jatinegara. Kaget beliau mengetahui harga cabai per kilogram saat ini.
"Mbah, kisaran harga Jakarta emang lagi segitu," kata Sumi sembari memilih-milih dari gunungan cabai merah keriting dan menambahkan ke baskom pembeli.
Minggu pagi itu, Sumi bersama Mbah Ti dan Ibu belanja kebutuhan dapur dan bisnisnya di pasar lama itu.
Mengingat ketersediaan kas warung kian menipis sejak pembayaran upah kemarin, Sumi membatalkan pengiriman bahan baku untuk Senin esok.
Mbah Ti berdecak dengan raut wajah ditekuk. "Di Jawa, segitu dapet akeh (banyak)." Ia meraup segenggam umbi lapis. "Iki brambang piro (ini bawang merah berapa)?"
Jawaban si penjual menambah kekesalannya, dan menyulut sesi tawar-menawar.
Sumi melihat sekeliling. Lantai semi-basement Jatinegara Trade Center--tempat berbagai kios bahan makanan; los-los sayuran, ikan, dan daging--memang cenderung sepi Minggu pagi. Ia tak ingat kapan terakhir kali kemari; sewaktu Bapak masih hidup sepertinya.
Sumi membayar si penjual untuk cabai, bawang-bawangan, dan bumbu kering di harga yang disepakati Mbah Ti. Terlihat puas sesepuh itu; kontras dengan ibu penjual yang seperti baru menabrak tembok.
Duo nenek dan cucu itu lanjut menyusuri los sayuran.
"Ibu masih di tempat cendol, Mbah," info Sumi sehabis mengecek pesan ponselnya.
"Biar dia kongkow (nongkrong); dari dulu cah mbeling (bocah nakal). Rak mang urusi (nggak usah diurusin)," celetuk Mbah Ti sambil berdecak.
Sumi menghela napas. Memang, sih, senang dia Ibu sudah tak pernah memarahinya sejak kedatangan Mbah Ti. Tetapi, seperti berganti: si Nyonya diomeli nenek itu setidaknya sehari sekali.
"Piye si Mas-e (gimana si Masnya) semalem?" tanya Mbah Ti saat memilih-milih ikatan bayam.
Sumi sudah menduga neneknya akan menanyakan hal ini. "Baik, kok, Mbah. Nggak macem-macem ke Sumi." Ia membolak-balikkan kol besar di tangannya menelitinya. "Sumi aja nggak boleh keluar duit; dibayarin semua, termasuk transport."
Mbah Ti mengangguk-angguk. "Semestinya, yo, ngono (ya, begitu)." Kelar memilih bayam, kini kucai dan daun singkong. "Wis milih kowe (udah milih kamu) mau jualan opo (apa)?"
"Sampun, Mbah." Sumi menyerahkan empat kol besar ke penjualnya. Rasanya dia sanggup memikulnya.
(Udah)
"Mie pedes yang level-levelan itu. Walau Sumi belom tau apa ada peminatnya, sih; apalagi malem." Tangannya bergerak ke tumpukan jagung.
"Lha, yo, coba dulu; ojo wedhi (jangan takut). Percaya sama keputusanmu," ucap Mbah Ti yang kini memilih-milih di tumpukan wortel.
"Nggih (iya), Mbah."
"Sing nolong sopo?"
(Yang bantu siapa)
"Sendirian, Mbah."
"Yo wis; nek ngono tak rewangi," cetus si sepuh.
(Ya udah; kalau begitu tak bantuin)
Sumi menatap neneknya. "Jangan, Mbah; capek nanti. Sumi bisa, kok."
"Rak 'po-'po (nggak 'pa-'pa); capek, yo, turu (capek, ya, tidur). Sekalian Mbah jaga kamu; biar wong lanang gatel sungkan kabeh (biar cowok gatel sungkan semua)." Mbah Ti memungut satu wortel yang menggelinding ke lantai.
Senyum tersungging di bibir Sumi. Jarang-jarang dadanya terasa hangat bersama Ibu. "Matur nuwun, Mbah," ucapnya.
(terima kasih)
Mereka berdiskusi tentang resep bumbu mie yang akan dijual. Sumi mengusulkan menggunakan mie instan sebagai dasarnya agar ringkas; yang goreng dan kuah sebagai pilihan.
Mbah Ti yang akan membuat bumbu pedas kering dan basahnya. Sebagai uji coba, lauknya berupa kerupuk kaleng, telur, dan bakso beli jadi.
Sumi meringis. Beratnya belanjaan berupa plastik-plastik tentengan dan tas karung plastik raksasa mengiris pedih jemari dan bahunya. Ini saja masih belum mendekati jumlah sayuran, dan lauk isian yang dibutuhkan untuk sehari jualan. Selain itu, masih ada ayam dan hasil laut mesti dibelinya.
Otaknya sibuk membandingkan proyeksi pengeluaran sebatas sayur dan bumbu, jika seluruhnya dibeli di situ, dengan pengiriman bahan baku langganannya. Ah, ternyata justru lebih mahal belanja semdiri di pasar. Ia merutuki dirinya yang buta harga.
Bau amis menyeruak ke hidungnya; mereka memasuki los ikan. Kadang nampak ceceran air di lantai ubinnya. Selingan lalat berterbangan menjadi penyemarak.
"Memangnya bener, kowe rak remen karo si Mas-e?" tanya Mbah Ti.
(kamu nggak suka sama si Mas-nya)
Sumi menggeleng. "Kenal juga baru, Mbah."
Mbah Ti membetulkan selendang rendanya di kepala. "Dia dhemen karo kowe (dia suka sama kamu), seperti tebakan Mbah. Moso (masa) sampe bela-belain anter kalo rak dhemen (nggak suka)."
Gadis itu teringat pertanyaan Andi sebelum berpisah semalam. "Sumi tau."
Mereka berhenti di kios yang menjajakan berbagai ikan teri, terasi, dan udang kering.
"Sumi pengen fokus urusin kuliah dan utang dulu, Mbah. Nggak kepikir pacaran." Sumi menyapa pedagangnya dan meminta sejumlah besar teri medan.
"Ah, moso (masa)?" Mbah Ti melihat-lihat tumpukan-tumpukan pilihan udang rebon.
"Bener, Mbah. Masalah cinta cuma akan bikin rumit keadaan; bikin fokus buyar."
Mbah Ti terdiam sejenak; menoleh kepadanya. "Takut bernasib koyo mbakyumu?" tanyanya lembut.
(kayak)
Gantian Sumi terdiam.
Si gadis mengangguk. "Urusan cinta gede resikonya, Mbah. Kalau hati udah nyantol, susah akibatnya kalau ada apa-apa." Terlintas kembali cuplikan kakaknya yang sakit hati.
"Bisa berantakan urusan lainnya." Sumi membayar si pedagang untuk dua plastik penuh terinya. "Sumi ... belom bisa ambil resiko itu sekarang." Terasa olehnya Mbah Ti masih memandangnya.
Ia tersenyum kepada sang sesepuh. "Sumi, kan, lagi jadi andelan. Kalo nggak ajeg, gimana nasib yang lain? Jembatan bakal hancur kalo tiang penyangganya roboh, 'kan, Mbah?"
Wajah keriput itu merekah membalas senyumannya. Dielusnya sebelah pipi cucu tunggalnya itu. "Cah ayune Mbah wis mateng."
(Si cantiknya Mbah udah dewasa)
Hangat hati Sumi. Apalah artinya berkorban sedikit lagi untuk mereka yang dipedulikannya, 'kan?
Mereka lanjut ke kios basah berbagai biota laut.
"Tapi kamu mesti inget, ono waktune ora oleh wedi (ada waktunya nggak boleh takut); mesti bisa luwes. Kalau memang cocok, ojo lari. Hidup bisa berubah cepat, Sum; yang tadinya ada bisa hilang."
(jangan)
Sumi meresapi nasehat neneknya.
Tapi, kalo dia, pengecualian, 'kan? Toh, udah kenal lama ini. Pasti rendah resikonya; betul, nggak? Nggak kayak Mbakyu.
"Mbah, sebetulnya, sih ..., udah ada yang Sumi suka."
"Sopo?"
(siapa)
Tilikan Mbah Ti membuat Sumi menelan ludah; mulai menyesali dia sudah terus terang. "Pokoknya ada, lah, Mbah."
"Sopo?"
(siapa)
"Ih, Sumi nggak mau bilang."
"Kagak mau bilang apaan?" timpal suara dari belakang Sumi.
Sumi menoleh, dan membeliak.
Mampus. Tentu saja dia yang nongol.
* * *
⏫ Next update: Kamis, Agustus 17, 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]
Romance[𝚅𝚘𝚕. 𝟷 𝙳𝙾𝙽𝙴] Mahasiswi UI, Sumi, dipaksa ibunya pakai kebaya, sanggulan, dan berdandan layaknya ke kondangan enam hari dalam seminggu. Itulah tradisi bisnis bakwan pusaka keluarganya terlepas panasnya Jakarta Timur. Hal yang kerap mengundan...
![Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]](https://img.wattpad.com/cover/346097787-64-k421294.jpg)