A/N - Telat nih, klga yg sakit akhirnya masuk RS... Kalut, tp sy ttp tabrak nulis kpnpun bs 💪🏼
———
Yg diceritain Jaka bab kmrn itu dikit yg fiktif. Sisanya fakta. Kl ditanya apa novel ini ... based on a true story? Sy ga bs jwb.
Ngeri nulis novel ini sbnrnya; makanya sebagian nama2 (org/instansi) & lokasi, detail, dan mayoritas isi plot diganti/direkayasa/dimodif/tak disebut pasti.
Yg bs nebak & yg bnrn "tahu", mhn bgt jgn nebak di komen/DM (sy bkl hrs delete komennya); simpen sndr2 ya 🙏🏻 Enjoy.
- Kahala -
___________
Sosok itu memandang kertas tebal di tangannya; pinggirannya sudah semakin aus, tintanya usang dan mengelupas; lusuh dibandingkan saat dikeluarkannya dari mulut si keparat itu.
Kenapa sulit sekali menemukan gadis ini?
Tolol anak-anak buahnya; masa tak ada yang becus? Padahal sudah lewat berbulan-bulan; seluruh jaringan telah dikerahkan. Bahkan, dijadikan prioritas pertama.
Dia sudah mengulur waktu terlalu lama; eksekusi rencana harus segera, walau gadis itu belum ditemukan pun.
Harus.
Sebelum Antaka berhasil melacak dirinya!
* * *
"How's your linguine?" tanya Bimo.
(Gimana linguine kamu)
Sumi mengangkat pandangannya sejenak ke Bimo—suaminya tersenyum tipis—lalu menurunkannya kembali ke piring.
Oh, iya; "E"-nya dibaca, ya?
Tadi sudah dengar beberapa kali padahal, saat hendak memesan.
Diteruskannya memutar-mutar garpu melilitkan pasta pipih bagai mie; liukan uapnya membawa lembut aroma khas bawang putih matang dan manisnya lobster.
Pesanannya adalah satu-satunya pilihan dari menu berbahasa Inggris yang mencantumkan chilli 'cabai' sebagai deskriptor. Pasti makin sedap jika jauh lebih pedas; ditambah saus cabai botolan, misalnya. Dikiranya, dengan kelas harga yang tertera, justru akan luar biasa.
"Enak." Sumi memandangnya lagi; tersenyum balik. "Makasih udah nyaranin. Sering kesini?"
Tempat populer sepertinya; hampir semua meja ditempati. Pelayan-pelayan berseragam putih-hitam berompi kelabu berseliweran; beberapa di antaranya yang berseragam hitam total tampak mengawasi dan memberi instruksi.
Restoran itu berdindingkan jendela. Dari tempat duduknya, Sumi dapat melihat Bundaran HI, empat puluhan lantai jauhnya.
Ramainya arus lalu lintas Thamrin dan Sudirman Sabtu malam itu tampak seperti aliran sungai kuning dan merah; memusar indah pada bundaran air mancur, sebelum membelah kilau cakrawala distrik niaga Jakarta Pusat.
Bimo meminta meja persegi di sudut; dengan dua sisinya berbatasan kaca, keduanya duduk menyiku satu sama lain.
"Not really. Menurutku desain langit-langitnya nggak selaras sama interior lainnya. See there ...." Dagu Bimo menunjuk langit-langit putih restoran; padanya terlihat dekorasi timbulan barisan-barisan panjang menyerupai gerigi gergaji longgar yang tumpul.
(Nggak juga; lihat di situ)
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]
Romance[𝚅𝚘𝚕. 𝟷 𝙳𝙾𝙽𝙴] Mahasiswi UI, Sumi, dipaksa ibunya pakai kebaya, sanggulan, dan berdandan layaknya ke kondangan enam hari dalam seminggu. Itulah tradisi bisnis bakwan pusaka keluarganya terlepas panasnya Jakarta Timur. Hal yang kerap mengundan...
![Miss Bakwan & 3 Men [Romantic Suspense & Thriller - 𝔻𝕌𝕆𝕃𝕆𝔾𝕀]](https://img.wattpad.com/cover/346097787-64-k421294.jpg)