7. Tertangkap Basah

9.4K 631 34
                                        

“Janu?” gumam Feby tanpa sadar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Janu?” gumam Feby tanpa sadar.

Jarak posisinya dengan cowok itu yang lumayan dekat membuat cowok itu bisa mendengar gumaman Feby. Tubuhnya seketika menegang. Dia merasa seolah tertangkap basah.

“Ah, nggak mungkin Janu. Janunya keren. Nggak mungkin bertingkah aneh kayak gitu.”

Feby mengibaskan tangannya menghalau dugaannya sendiri. Dia tidak berpikir cowok itu akan mendengarnya karena cowok itu tidak memberikan reaksi apa pun terhadap ucapan Feby sebelumnya. Feby juga merasa suaranya sangat lirih.

Cowok itu mengetatkan rahangnya, kesal karena disebut aneh oleh Feby. Andai tidak sedang menyembunyikan diri, dia pasti akan balas menyemprot Feby.

“Mas,” panggil Feby tiba-tiba yang membuat tubuh cowok itu menegang untuk kedua kalinya.

“Mas dengar saya?” ulang Feby.

“Iya. Kenapa?” sahut cowok itu dengan suara yang dibuat besar.

Kernyitan di dahi Feby semakin dalam. Tidak hanya tingkahnya yang aneh, suara cowok itu ternyata juga aneh.

“Kalau boleh tahu, Mas pakai parfum apa? Wanginya sama kayak parfum yang gebetan saya pakai. Saya mau beli juga buat disemprot di boneka biar kalau saya kangen dia, saya bisa peluk boneka sambil bayangin dia yang saya peluk,” tanya Feby tanpa malu.

Cowok itu bergidik ngeri membayangkan apa yang baru saja diucapkan Feby. Dia tidak akan membiarkan Feby merealisasikan rencananya.

“Saya cuma pakai parfum isi ulang,” jawab cowok itu, yang tidak lain adalah cowok yang baru saja Feby bicarakan.

Dia Januar, dan dia tidak akan membiarkan dirinya dijadikan fantasi oleh otak halu Feby.

“Masa?”

Feby ragu dengan jawaban cowok itu. Dia tahu betul kalau yang cowok itu pakai adalah parfum mahal karena wanginya kuat dan khas, sayangnya dia tidak tahu nama parfumnya karena dia tidak begitu paham wangi-wangian cowok.

Keraguan Feby bertambah karena cowok itu juga menjawab pertanyaannya tanpa menoleh padanya. Sangat tidak sopan. Bilang saja dia tidak mau spill parfumnya karena takut dikembari.

Ting!

Lift berhenti di lantai tujuan Feby. Terpaksa dia melepaskan cowok yang sejak tadi bersamanya dalam lift itu meskipun jawaban cowok itu belum memuaskannya.

Feby melangkah keluar lift begitu pintu lift terbuka. Sementara Januar tetap diam di posisinya. Dia sedikit menoleh untuk memastikan apakah Feby sudah pergi.

Dalam hati dia mengumpat, kenapa lantai tujuan Feby harus sama dengan lantai tujuannya. Kalau begini bagaimana caranya dia bisa sampai di unitnya tanpa ketahuan Feby.

Akhirnya Januar keluar saat pintu lift akan menutup. Terpaksa. Tidak mungkin dia kembali ke lantai dasar hanya untuk menghindari Feby.

Langkah Feby seketika berhenti tepat di depan unit nomor 128. “Ups! Kelewatan,” ucapnya lalu berbalik badan.

Shilly-ShallyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang