67. Jamuan Mantan

6.2K 495 21
                                        

Mata Januar terbuka perlahan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mata Januar terbuka perlahan. Erangan kesakitan lolos dari bibirnya begitu merasakan pusing yang teramat sangat. Rasanya kepalanya seperti baru saja dihantam sesuatu.

Kernyitan di dahi Januar semakin banyak saat melihat dekorasi ruangan yang sedang dia tiduri sekarang tampak asing baginya.

Ini bukan kamarnya. Kamarnya tidak se-cute ini. Seingatnya dinding kamar teman-temannya juga tidak ada yang berwarna ungu muda.

Kamar ini seperti kamar perempuan karena warna dinding dan dekorasinya tampak sangat feminin. Sementara dinding kamar Januar sendiri berwarna abu-abu.

Januar bangun dengan perlahan. Dia meringis, merasakan sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi saat dia memaksa dirinya sendiri untuk bangun. Dia harus tahu sekarang sedang di mana jadi dia akan keluar untuk mencari tahu.

Beranjak dari kasur, Januar mengedarkan pandangan sebentar sekedar ingin melihat dekorasi kamar ini sekali lagi.

Jika dilihat-lihat lagi, kamar ini sebenarnya terlihat seperti tidak berpenghuni sebelumnya karena tidak ada barang-barang pribadi di sini. Jadi, bisa dipastikan kamar yang Januar tempati sekarang bukan milik siapa-siapa.

Kaki Januar melangkah keluar kamar. Dinginnya lantai membuatnya sadar kalau sekarang dia tidak memakai sepatunya lagi. Pasti orang yang membawanya ke sini yang melepas sepatunya.

Suara berisik tiba-tiba terdengar dari sebuah ruangan. Januar langsung menghampiri asal suara itu. Mungkin orang yang membawanya ke sini ada di sana.

Dari kejauhan tampak seorang cewek sedang memasak di dapur. Cewek itu memakai piyama berwarna kuning bergambar beruang dengan rambut dicepol.

Januar tidak bisa melihat wajahnya karena posisi cewek itu memunggunginya. Namun, postur tubuhnya seperti seseorang yang sangat dia kenali.

Tubuh tinggi, ramping, berkulit putih, banyak cewek dengan ciri-ciri seperti itu, tapi pikiran Januar langsung mengarah pada seseorang yang selalu menancap dalam ingatannya.

Januar memutuskan menghampirinya untuk mengetahui siapa sebenarnya cewek itu. Saat posisinya sudah semakin dekat, kakinya refleks berhenti begitu melihat wajah cewek itu dari samping.

Dugaannya ternyata tidak salah, tapi di sisi lain Januar tidak yakin kalau yang dia lihat sekarang benar adanya.

“Kok ada Feby di sini? Apa gue mimpi?” Januar menepuk-nepuk pipinya, mencoba menyadarkan dirinya sendiri.

Sepertinya dia masih tidur karena melihat Feby memasak di dapur saat dia bangun memang sudah menjadi mimpi Januar sejak lama. Baik mimpi dalam artian bunga tidur maupun mimpi dalam artian harapan. Sulit dipercaya kalau yang dia lihat sekarang adalah nyata.

“Kamu nggak mimpi, tapi mungkin masih mabuk,” sahut Feby saat menyadari kehadiran Januar.

Cewek itu menoleh sedikit, menatap Januar yang sedang berdiri tidak jauh dari posisinya saat ini. Cowok itu tampak linglung.

Shilly-ShallyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang