PDKT sama Maretta, jadiannya sama Feby.
Meski tahu Januar menyukai cewek lain, tapi Feby tidak menyerah untuk membuat lelaki itu menyukainya. Dia melakukan segala cara untuk menarik perhatian Januar. Namun, sekeras apapun Feby berusaha, dia akan sel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Januar merapikan kerah jasnya setelah turun dari mobil Civic putih miliknya. Penampilannya sangat mencolok. Dia seperti pengusaha muda yang sedang mengunjungi sebuah sekolah untuk memberikan donasi. Sayangnya, kedatangannya ke sekolah bukan untuk melakukan hal mulia itu. Dia hanya ingin menghadiri reuni yang diadakan coach modelingnya dulu.
Semua teman-temannya—yang kebetulan masih berada di parkiran juga--menatapnya penuh kagum. Tidak hanya pada wajah Januar yang semakin tampan atau tubuhnya yang lebih berisi—yang terlihat lebih proporsional dibanding tubuhnya saat SMA yang terbilang kurus--tapi juga pada kendaraan yang dia bawa.
Semua yang ada pada diri Januar tampak menakjubkan dan membuat iri. Penampilan Januar sekarang bahkan tidak kalah dari artis yang akan menghadiri sebuah acara penghargaan.
“Woy, Jan, apa kabar?”
Dafa—salah satu temannya di ekstra kurikuler Modeling dulu—menyapa dan menyalaminya.
“Baik. Lo gimana?” tanya Januar balik.
“Ya gini-gini aja.” Dafa mengedikkan bahu.
“Eh, gue dengar lo kerja di Aksena Group, ya?”
Januar mengangguk mengiakan. Mereka mengobrol sambil berjalan menuju lapangan tempat fashion show diadakan.
“Masukin gue ke sana, dong. Gue belum punya pekerjaan yang menjanjikan, nih. Habis lulus, gue cuma kerja jadi barista di kafe. Orang tua pacar gue nggak ngizinin gue ngelamar anaknya kalau pekerjaan gue gitu-gitu aja.”
Dafa memasang wajah memelas sambil sedikit menceritakan kisah percintaannya yang terhalang restu orang tua hanya karena pekerjaannya agar Januar merasa kasihan. Dia dengar dari yang lain kalau Aksena Group itu punya omnya Januar, adik dari papanya Januar yang sudah meninggal.
“Iya kalau ada lowongan,” balas Januar sekenanya.
Bukannya dia tidak mau membantu, dia hanya merasa tidak enak pada omnya kalau memasukkan orang ke perusahaan hanya karena orang itu temannya, bukan karena kemampuannya.
Sesampainya di lapangan yang sudah dipenuhi oleh kursi-kursi untuk undangan dan sebuah panggung besar, Januar memisahkan diri dari Dafa untuk menghampiri Elgar, Navy, dan Damar yang sudah mengisi salah satu kursi karena fashion show tidak lama lagi akan dimulai.
Terlihat Elgar sedang membujuk Cloudy agar duduk di sebelahnya, tapi Cloudy kukuh ingin duduk bersama temannya.
“Widih, penampilan lo udah kayak mau mejeng di red carpet aja,” ledek Navy saat Januar menempati kursi kosong di sebelahnya.
Dibanding teman-temannya yang lain, penampilan Januar memang masuk dalam kategori yang paling mencolok bersama beberapa orang lainnya yang niatnya memang untuk pamer.
Sayangnya, niat Januar berpenampilan seperti itu bukan untuk pamer, tapi untuk membuat mantannya kembali jatuh dalam pesonanya. Membuat Feby tidak bisa move on darinya adalah tujuan utamanya saat ini.