PDKT sama Maretta, jadiannya sama Feby.
Meski tahu Januar menyukai cewek lain, tapi Feby tidak menyerah untuk membuat lelaki itu menyukainya. Dia melakukan segala cara untuk menarik perhatian Januar. Namun, sekeras apapun Feby berusaha, dia akan sel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Shit,” umpat Januar entah untuk yang ke berapa kalinya. Matanya menatap tajam pada layar ponselnya.
Di layar itu tampak room chat-nya dengan Maretta. Hanya pesan dari Januar saja yang terlihat di room chat itu karena tidak ada balasan apa pun dari Maretta.
Januar mulai mengerti jika Maretta tengah menjauhinya. Sudah 2 hari cewek itu mengabaikannya. Dia menghindar setiap kali tidak sengaja bertemu Januar. Pesan dari Januar juga tidak ada yang dia balas.
Semua ini terjadi karena Feby. Cewek itu yang membuat Maretta menjauhi Januar.
Rasanya kekesalan Januar pada cewek itu kini semakin bertambah. Tidak hanya mengganggunya, Feby juga telah membuat cewek yang Januar sukai menjauhinya.
Januar bisa berpikir seperti itu karena Maretta mulai menjaga jarak dengannya setelah Feby mengumumkan pada orang-orang yang berada di kantin bahwa dia dan Januar kini berpacaran.
Entah apa maksud cewek itu melakukannya. Januar tidak bisa mencegahnya karena dia sendiri tidak menyangka Feby akan melakukan itu.
Mengingat selama ini Feby mengejar-ngejar Januar, Januar sedikit memaklumi kalau cewek itu bahagia setelah berpacaran dengannya. Mungkin karena itu Feby sampai mengumumkan hubungan mereka pada orang-orang.
Namun, jika dipikir lebih jauh, sepertinya alasan Feby sampai memublikasikan hubungan mereka tidak sesederhana itu. Pasti ada alasan lain yang memacu cewek itu untuk melakukan itu.
Tidak lama setelah Feby pergi dari meja mereka--setelah cewek itu memberikan potongan brownies pada Januar dan Maretta—Maretta juga ikut pergi. Cewek itu bilang jika dia ingin ke kelas duluan karena lupa belum mencatat materi yang dituliskan tadi.
Padahal biasanya mereka akan ke kelas bersama-sama. Tepatnya, sih, Januar yang mengantar Maretta sampai ke kelasnya sebelum dia menuju kelasnya sendiri.
Awalnya Januar tidak curiga, hingga setelah istirahat pertama itu Maretta sudah tidak mau membalas pesannya lagi. Bahkan cewek itu sengaja menyembunyikan diri saat jam istirahat kedua hingga Januar tidak bisa menemukannya di kelasnya.
Januar baru bisa mengonfrontasinya saat pulang. Itu pun setelah dia menunggu cukup lama di depan kelas Maretta hingga kelas Maretta bubar karena Januar kebetulan jamkos di jam pelajaran terakhirnya.
Jika saja Januar tidak mencegat Maretta di depan pintu, mungkin cewek itu akan kabur lagi. Sayangnya, Januar tidak memberinya cela sedikit pun untuk kabur, jadi mau tidak mau Maretta menghadapi cowok itu dan pertanyaan-pertanyaannya.
Januar bertanya pada Maretta kenapa cewek itu tidak mau membalas pesannya sama sekali dan menghilang saat jam istirahat kedua, padahal biasanya mereka menghabiskan jam istirahat kedua bersama-sama. Entah itu di kantin atau taman.
Ya selayaknya sepasang manusia yang sedang PDKT pada umumnya.
Dengan gugup Maretta menjawab jika dia tidak membalas pesan Januar karena sibuk dengan urusan OSIS. Dia juga menjadikan urusan OSIS sebagai alasannya tidak ada di kelas saat jam istirahat kedua. Dia mengatakan kalau dia tadi menghabiskan jam istirahat kedua di ruang OSIS karena ada tugas OSIS yang harus dia selesaikan.