PDKT sama Maretta, jadiannya sama Feby.
Meski tahu Januar menyukai cewek lain, tapi Feby tidak menyerah untuk membuat lelaki itu menyukainya. Dia melakukan segala cara untuk menarik perhatian Januar. Namun, sekeras apapun Feby berusaha, dia akan sel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mereka duduk berdua, tapi Feby sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Januar. Dia terus menoleh ke jendela memperhatikan pemandangan di luar yang dia lewati.
Bus sudah mulai berjalan sekitar 10 menit yang lalu setelah memastikan semua orang yang akan ikut dalam pemotretan kali ini sudah memasuki bus. Suasana bus kini sangat ramai dengan suara percakapan dan musik yang diputar Pak Supir.
“Lo ngehindarin gue.” Januar menarik perhatian Feby dengan kata-katanya.
Usahanya berhasil karena Feby langsung menoleh padanya. Cewek itu hanya menatap Januar tanpa menanggapi ucapan Januar barusan.
“Akhir-akhir ini sikap lo jadi dingin. Lo kelihatan makin marah sama gue. Kenapa? Lo masih belum maafin gue atau gue udah buat salah lagi sama lo? Lo bahkan nolak tiap gue tawari buat berangkat bareng. Sekarang lo nggak mau duduk sama gue,” lanjut Januar mengungkapkan isi pikirannya yang beberapa hari ini selalu berputar di kepalanya.
Sikap Feby benar-benar membuatnya bingung dan menebak-nebak kesalahan apa lagi yang sudah dia buat hingga cewek yang dulunya selalu mengejarnya itu kini malah berlari menjauhinya.
“Aku cuma pengin kasih kamu ruang buat kamu melakukan apa yang kamu mau, termasuk habisin waktu sama Maretta,” ucap Feby disertai sindiran.
Januar akui dia masih dekat dengan Maretta meskipun dia tahu Feby sedang marah padanya. Itu bukan keinginannya sepenuhnya. Ada sisi dalam hatinya yang menyuruhnya menjaga jarak dengan Maretta, setidaknya sampai hubungannya dengan Feby kembali membaik.
Namun, saat dia mencoba melakukannya, Maretta menyadarinya dan menganggapnya seolah dia mengkhianati cewek itu. Maretta menganggapnya ingkar janji dan menuduhnya lebih memilih Feby daripada dirinya.
Januar tidak menyangka akan berada di situasi yang rumit seperti ini. Apalagi saat hatinya sudah tidak bisa mengabaikan Feby lagi. Cewek itu diam-diam sudah mengacaukan pikiran dan hatinya tanpa dia sadari.
“Gue nggak butuh lo kasih ruang cuma buat melakukan apa yang gue mau,” balas Januar sinis.
“Iya, sih, tapi kamu jadi lebih leluasa kan kalau nggak ada aku?” tebak Feby. Dia bersikap biasa-biasa saja, tidak terlihat tersinggung sama sekali.
“Tapi, bukan itu yang gue mau.” Suara Januar terdengar frustrasi.
Feby menatapnya tidak mengerti. Sejujurnya dia tidak sepenuhnya tidak mengerti. Dia hanya takut salah mengartikan karena ucapan Januar barusan bertolak belakang dengan yang seharusnya.
Mencoba tidak peduli, Feby mengalihkan pandangan kembali pada jendela. Dia mengambil earphone dari dalam tasnya lalu memasangnya di telinganya, berharap dengan begitu Januar tidak mengajaknya bicara lagi.
Feby memutar playlist-nya dan menikmati lagu yang sedang berputar sambil menatap menerawang pada pemandangan di luar jendela.
Ketenangan Feby hanya berlangsung beberapa menit karena setelah itu Januar kembali mengganggunya. Cowok itu mencabut sebelah earphone Feby dan memasangnya di telinganya sendiri.