PDKT sama Maretta, jadiannya sama Feby.
Meski tahu Januar menyukai cewek lain, tapi Feby tidak menyerah untuk membuat lelaki itu menyukainya. Dia melakukan segala cara untuk menarik perhatian Januar. Namun, sekeras apapun Feby berusaha, dia akan sel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara ketukan pintu terdengar begitu jelas di tengah keheningan yang terjadi di ruangan itu. Membuat suara ketikan keyboard tiba-tiba berhenti.
Mata seorang laki-laki melirik cukup lama ke arah pintu. Otaknya menebak-nebak, siapa yang bertamu ke unitnya jam segini. Apalagi orang itu bisa langsung sampai unitnya. Pasti dia orang terdekatnya. Karena yang mempunyai akses menuju unitnya hanya keluarganya dan teman-teman terdekatnya saja.
Dengan malas dia beranjak dari karpet yang sejak tadi dia duduki dan melangkah menuju pintu, meninggalkan laptopnya yang masih dalam keadaan menyala. Dia membuka pintu unitnya begitu saja tanpa berniat mengintipnya terlebih dahulu.
“Hai, Janu!”
Sapaan yang disuarakan dengan ceria itu langsung terdengar begitu pintunya terbuka. Bola mata Januar sontak berputar. Ekspresi malasnya terlihat semakin jelas.
“Ada apa?” tanya Januar. Terlihat jelas jika dia enggan berlama-lama berbicara dengan Feby.
“Aku habis nyoba bikin puding gula merah. Cobain, ya?” Feby menatap Januar membujuk.
Mengingat rasa nasi goreng yang Feby berikan tadi siang tidak seburuk yang dibayangkan, Januar kini tidak bisa menyepelekan rasa masakan Feby seperti sebelumnya lagi.
Kemampuan masak cewek itu sudah semakin meningkat dari sebelumnya yang hanya bisa membuat sandwich dan nasi goreng default.
“Ya udah, sini pudingnya,” ucap Januar dengan menadahkan tangan agar Feby memberikan puding yang dia bawa padanya.
Feby tidak kunjung memberikan pudingnya. Dia malah menatap Januar dengan gugup. Bibirnya terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.
“Aku taruh sendiri di dalam aja, gimana?” tawar Feby, memperhalus maksudnya.
“Nggak perlu, biar gue bawa masuk sendiri aja,” tolak Januar. Dia sama sekali tidak mengerti maksud terselubung Feby.
“Mmm... Sebenarnya aku pengin main ke unit kamu, boleh nggak? Aku di unit sendirian. Kakakku belum pulang dari ngerjain tugas di rumah temannya,” tanya Feby gugup.
Kali ini dia tidak modus. Sejak sepulang sekolah tadi dia memang hanya sendirian di apartemen karena kakaknya langsung ke rumah temannya setelah kuliah.
Bukannya dia takut di apartemen sendirian, dia hanya merasa kesepian. Dia bosan menonton TV dan scrollsocial media saja sejak tadi.
Sejujurnya Januar berniat menolaknya karena dia sedang tidak ingin diganggu. Ada tugas yang menunggunya untuk diselesaikan.
Namun, saat melihat wajah memelas Feby, dia jadi tidak tega untuk menolaknya. Ekspresi cewek itu sekarang hampir sama seperti Feby Cat saat sedang kelaparan.
“Ya udah, tapi jangan gangguin gue. Gue mau ngerjain tugas,” ucap Januar mengizinkan.