PDKT sama Maretta, jadiannya sama Feby.
Meski tahu Januar menyukai cewek lain, tapi Feby tidak menyerah untuk membuat lelaki itu menyukainya. Dia melakukan segala cara untuk menarik perhatian Januar. Namun, sekeras apapun Feby berusaha, dia akan sel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hujan deras mengguyur wilayah apartemen Januar sore itu. Suara petir terdengar keras. Angin berembus kencang menggoyangkan pepohonan dan menerbangkan dedaunan yang sudah kering.
Suara kolaborasi antara hujan dan petir itu berhasil mengusik konsentrasi Januar yang sedang mengerjakan tugas Geografi dengan membelakangi jendela apartemen.
Jika tidak mendengar suara menakutkan itu mungkin dia tidak sadar jika sekarang sedang turun hujan.
Januar menoleh ke belakang, pada jendelanya, sekedar ingin tahu keadaan di luar. Detik itu juga dia menyesali tindakannya karena dia jadi harus melihat apa yang sebenarnya tidak ingin dia lihat.
Tubuh Januar langsung menegang. Secepat kilat dia mengalihkan pandangannya pada lampu yang berada di pojok ruangan.
Dengan gemetar tangannya meraih tirai dan mencoba menutup jendela kacanya dengan tirai itu. Dia tidak tahu tirainya rapi apa tidak karena dia sama sekali tidak melihat saat menutup tirai itu. Dia hanya ingin segera menutupi sumber ketakutannya secepat yang dia bisa.
Otak Januar seketika blank. Dia tidak bisa melanjutkan pekerjaannya membuat makalah. Dia hanya bisa menatap kosong pada dinding dengan tubuh yang masih menegang.
Keringat mulai berlomba keluar membasahi dahinya. Nafasnya terasa berat. Dia menggenggam erat tangannya yang masih saja gemetar.
Ingatan tentang apa yang baru saja dia lihat selama beberapa detik itu masih menghantui pikirannya meskipun jendelanya sudah tertutupi tirai.
Januar memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia benci perasaan ini. Perasaan takut yang mencekik setiap dia melihat angin yang berembus kencang. Dia seperti sedang berada di ruangan kecil tanpa udara yang membuatnya kesulitan bernafas hingga dadanya terasa sesak.
Anemophobia atau yang biasa disebut ketakutan pada angin tidak Januar dapatkan sejak lahir. Dia baru merasakannya sekitar 5 tahun yang lalu setelah terjadinya sebuah tragedi yang membuatnya harus kehilangan orang terdekatnya yang meregang nyawa dengan tragis di depan matanya sendiri.
Hingga kini Januar tidak bisa menghilangkan ketakutan itu. Dia juga tidak pernah mencoba untuk mendatangi psikiater atau orang sejenisnya. Bahkan dia berusaha menyembunyikan ketakutannya ini rapat-rapat.
Hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya, termasuk para sahabatnya dan seorang perempuan yang kini dekat dengannya.
Januar tidak pernah menceritakan ketakutannya pada mereka. Mereka mengetahuinya sendiri karena Januar sedang bersama mereka saat sedang menghadapi ketakutannya.
Datangnya angin kencang memang tidak bisa diprediksi. Berkali-kali Januar terjebak di momen yang membuatnya harus menghadapi ketakutannya di saat dirinya sedang bersama banyak orang.
Seperti saat pertama kali Elgar dan teman-temannya yang lain mengetahui tentang ketakutannya. Saat itu mereka sedang nongkrong di gazebo belakang rumah Navy sepulang sekolah. Cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba berubah mendung disertai angin kencang.