55. Usaha Untuk Menghindar

9.8K 554 28
                                        

Sepulang sekolah Feby langsung membereskan barang-barangnya yang sebelumnya tersebar di seluruh penjuru apartemen kakaknya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sepulang sekolah Feby langsung membereskan barang-barangnya yang sebelumnya tersebar di seluruh penjuru apartemen kakaknya. Dia mengumpulkannya menjadi satu lalu memasukkannya ke dalam koper.

Dia akan kembali ke rumahnya karena tidak ada gunanya dia di sini. Misi untuk mendekati Januar sudah selesai, dan Feby gagal.

Sampai hubungan mereka berakhir, Feby belum benar-benar mendapatkannya. Hanya status mereka saja yang pacaran, sedangkan apa yang Feby dan Januar lakukan tidak menunjukkan jika mereka sepasang kekasih.

Pengakuan Januar tentang perasaannya pada Feby tidak bisa begitu saja Feby percayai. Dia masih meragukannya.

Bukannya dia menuduh Januar berbohong, dia hanya takut yang sebenarnya Januar rasakan padanya bukan benar-benar perasaan cinta, melainkan rasa bersalah, atau mungkin rasa posesif yang secara otomatis timbul saat Feby sudah menjadi miliknya.

Bisa saja Januar mengatakan itu hanya agar Feby tetap menjadi miliknya dan tidak dimiliki orang lain. Bukan hal yang mustahil karena sebagian orang yang memiliki sifat posesif memang akan tetap mencengkeram erat sesuatu yang menjadi miliknya meskipun dia tidak menyukainya.

Meskipun perasaannya untuk Januar masih utuh, tapi Feby tidak menyesali keputusannya untuk memutuskan hubungan dengan cowok itu. Mungkin dengan begini Januar bisa lebih memahami perasaannya sendiri karena Feby menduga kalau cowok itu masih menyukai Maretta.

Sekarang sebisa mungkin Feby menghilangkan bayang-bayang Januar dari hidupnya. Dia juga akan berusaha menghilangkan perasaannya pada cowok itu.

Dia tahu itu akan sulit karena Januar cinta pertamanya. Namun, dia yakin waktu pasti akan membuatnya terbiasa tanpa cowok itu.

Selesai memasukkan barang-barangnya hingga membuat kopernya penuh, Feby menarik koper itu keluar kamar.

Dia hanya membawa sebagian barangnya yang muat dalam satu koper. Sementara sebagiannya lagi akan dia ambil lain hari.

Feby merasakan perbedaan yang cukup jelas pada kepulangannya ke rumah kali ini dengan saat dia datang ke apartemen ini untuk tinggal bersama kakaknya.

Dulu, dia datang dengan penuh semangat. Membawa banyak barang sendirian bukan masalah untuknya. Namun sekarang, dia pulang dengan perasaan berantakan. Rasanya malas membawa kembali barang-barangnya ke rumah.

“Lo yakin mau balik ke rumah?” tanya Maysha tidak yakin saat melihat Feby keluar kamar sambil membawa koper.

Dia cukup mengenal adiknya. Bisa saja beberapa hari kemudian Feby kembali lagi dan ingin tinggal lagi bersamanya. Percuma saja dia membawa barang-barangnya.

Feby mengangguk dengan wajah sendunya. Kakinya melangkah pelan sembari menggeret koper menghampiri kakaknya.

“Kenapa tiba-tiba?”

Tadi pagi Feby baru mengatakan pada Maysha kalau dia akan kembali ke rumah, padahal sebelumnya tidak terjadi apa-apa.

Maysha sampai introspeksi diri karena khawatir alasan Feby kembali ke rumah adalah dirinya. Mungkin saja tanpa sadar dia sudah menyinggung perasaan adiknya hingga membuat Feby mendadak ingin kembali ke rumah orang tua mereka.

Shilly-ShallyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang