52. Phobia

7.6K 480 11
                                        

“Are you okay?” tanya Feby memastikan setelah melihat kalau Januar sudah lebih tenang setelah mereka berpelukan cukup lama

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Are you okay?” tanya Feby memastikan setelah melihat kalau Januar sudah lebih tenang setelah mereka berpelukan cukup lama.

Januar mengangguk sebagai jawabannya. Selain karena pelukan Feby, dia merasa sudah lebih tenang karena hujannya sudah berhenti bersamaan dengan angin dan petir.

Kini Januar mulai merasa canggung setelah menyadari kalau dia baru saja meminta pelukan pada Feby dan memeluk cewek itu dengan sangat erat.

Semoga saja Feby tidak merasa ilfeel padanya setelah Januar menunjukkan sisi lemahnya di hadapan cewek itu.

“Kalau aku boleh tahu, sebenarnya kamu kenapa?”

Feby sejak tadi sudah penasaran, tapi dia menahan dirinya sendiri untuk tidak bertanya terlebih dahulu di saat Januar masih dirundung ketakutan.

“Gue takut angin kencang,” jujur Januar. Entah kenapa dia ingin terbuka pada Feby. Dia ingin Feby tahu tentangnya.

“Sejenis phobia gitu?”

Januar kembali mengangguk.

“Kok bisa? Maksudnya, apa yang udah terjadi sampai kamu bisa mengalami itu?”

Januar menarik nafas dalam-dalam sebelum mulai bercerita. Rasanya sesak mengingat kejadian itu lagi, tapi dia juga ingin Feby tahu karena dia sudah membuat cewek itu kebingungan dengan tingkahnya barusan.

“Waktu SD dulu gue punya teman dekat namanya Ilham. Kami selalu berangkat dan pulang bareng naik sepeda karena sekolah kami nggak jauh dari rumah. Rumah gue juga cuma berjarak 6 rumah dari rumah Ilham.

“Kejadiannya terjadi tepat sehari sebelum ujian nasional. Waktu itu kami ada les bareng untuk persiapan ujian besok di sekolah. Lesnya dimulai dari jam 1 siang sampai jam 4 sore karena kami dapat sesi 2.

"Pas pulang, langitnya udah gelap banget. Anginnya juga kencang, tapi kami maksain buat langsung pulang tanpa berteduh dulu mumpung masih gerimis. Kalau kami berteduh takutnya malah nggak bisa pulang karena kemungkinan hujan akan turun deras setelah itu.

“Di tengah perjalanan, hujan mulai turun deras. Angin juga makin kencang sampai warung-warung di pinggir jalan pada tutup. Kami masih maksain buat lanjut perjalanan meskipun sepeda kami jadi berat saat dikayuh karena angin yang datang berlawanan arah dari arah tujuan kami.

“Pas tinggal beberapa meter sampai di rumah, sepeda Ilham tiba-tiba rantainya lepas. Dia berhenti di pinggir jalan. Gue yang sebelumnya jalan duluan jadi ikut berhenti sekitar 3 meter di depan dia, nunggu dia selesai pasang rantainya karena hal itu udah biasa terjadi, dan Ilham juga bisa benerin rantainya sendiri jadi gue cuma nunggu aja.

“Pas Ilham masih berusaha pasang rantainya kembali, tiba-tiba pohon di samping dia tumbang kena angin dan nimpa dia. Semua terjadi dengan cepat sampai gue cuma bisa bengong melihat itu semua. Sejak saat itu gue takut sama angin. Gara-gara angin itu, gue kehilangan teman dekat gue.”

Shilly-ShallyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang