PDKT sama Maretta, jadiannya sama Feby.
Meski tahu Januar menyukai cewek lain, tapi Feby tidak menyerah untuk membuat lelaki itu menyukainya. Dia melakukan segala cara untuk menarik perhatian Januar. Namun, sekeras apapun Feby berusaha, dia akan sel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dengan duduk di bar stool, Feby menikmati kopinya dengan tenang. Hari ini hari Sabtu jadi dia bisa sedikit lebih santai.
Meskipun tidak ada hari libur khusus, tapi Feby meminta Nia mengosongkan jadwalnya setengah hari saat weekend sebagai hari liburnya. Dia baru akan bekerja nanti setelah makan siang. Sebaliknya, jika dia ada pekerjaan di pagi hari saat weekend, sore sampai malamnya dia akan libur.
Feby melakukan itu untuk membuat dirinya enjoy dan tidak terpaksa melakukan pekerjaannya. Orang kantoran, buruh pabrik, dan anak sekolah saja libur saat weekend, masa dia tidak?
Di unit sebelah, Januar sedang mondar-mandir di dapur sambil memegang dagunya. Dia sedang memikirkan alasan untuk bisa berkunjung ke unit Feby.
Terkadang dia masih merutuki kebodohannya dulu. Di saat dulu Feby membuka pintu lebar-lebar untuknya, dia malah enggan memanfaatkan kesempatan itu. Dia tidak memedulikan cewek itu hingga membuat Feby akhirnya menyerah dengan hubungan mereka karena Januar tidak bisa meyakinkan cewek itu dengan perasaannya.
Januar tidak tahu perasaan cewek itu sekarang padanya, tapi melihat Feby masih menerima kehadirannya saja sudah cukup membuatnya lega. Dan, dengan tidak tahu dirinya dia malah ingin terus muncul di hadapan Feby.
Dia ingin menghabiskan banyak waktu bersama cewek itu untuk mengganti waktu-waktu yang telah terbuang karena perpisahan mereka.
Setelah berpikir lama, sebuah ide akhirnya muncul di kepala Januar. Senyumnya seketika mengembang.
Meskipun idenya ini akan membuatnya terlihat seperti tetangga tidak tahu diri dan tidak tahu malu, tapi dia tidak peduli. Apa pun dia lakukan hanya untuk bisa menghabiskan waktu weekend sebanyak-banyaknya bersama Feby.
Januar mengambil nasi yang baru beberapa saat lalu matang, lalu meletakkannya di piring.
Beberapa tahun tinggal di apartemen membuatnya sudah bisa memasak beberapa makanan, termasuk nasi. Seringnya dia memasak nasi sendiri, sementara lauknya dia beli. Kadang juga mendapat kiriman makanan dari mamanya.
Kini nasi itu dia bawa keluar unit menuju unit sebelahnya. Entah Feby sudah bangun atau belum, tapi dia akan mencoba mengetuk pintunya.
Saat melirik jam tangannya, ternyata sekarang sudah pukul setengah 8 pagi. Tidak terlalu pagi untuk berkunjung ke tempat mantan.
Butuh 2 menit hingga pintu itu terbuka memperlihatkan wujud cewek yang sejak beberapa tahun lalu sering gentayangan di pikirannya.
Penampilan Feby tampak seperti saat Januar melihatnya sedang memasak di dapur tempo hari. Rambutnya dicepol hingga menyisakan poninya saja, sedangkan tubuhnya dilapisi piyama. Bedanya kali ini piyamanya bergambar bunny berwarna pink. Sementara kakinya dibungkus sandal selop berbulu warna coklat dengan hiasan kepala beruang di atasnya.
Feby tampak imut dengan penampilan setengah berantakan seperti itu.
“Hai,” sapa Januar gugup. Dia menyengir bodoh, memamerkan giginya yang sudah dia sikat satu jam yang lalu.