PDKT sama Maretta, jadiannya sama Feby.
Meski tahu Januar menyukai cewek lain, tapi Feby tidak menyerah untuk membuat lelaki itu menyukainya. Dia melakukan segala cara untuk menarik perhatian Januar. Namun, sekeras apapun Feby berusaha, dia akan sel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Jatuh dari sepeda?”
Januar menatap Monica lalu beralih pada Feby disertai kerutan di dahinya. Tatapannya menunjukkan jika dia tidak mengerti dengan kejadian yang dimaksud mama Feby itu.
“Iya. Kamu lupa, ya? Waktu kalian masih SD kan kalian udah pernah ketemu. Waktu itu Feby lagi liburan di rumah kakeknya, Kakek Bram, terus dia jatuh pas sepedaan dan kamu nolongin dia. Kamu bonceng dia pulang dan beliin dia jepit rambut biar Feby nggak nangis. Tante tahu karena Feby cerita ke Tante setelah itu,” cerita Monica, membantu Januar mengingat kejadian yang dimaksud.
Kejadian itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Sejujurnya Januar lupa dengan kejadian yang dimaksud mamanya Feby karena banyak yang sudah terjadi dalam hidupnya, dan dia bukan termasuk orang yang memiliki ingatan kuat.
Namun, kata ‘jepit rambut’ berhasil membuat Januar mendapat ingatannya kembali. Otaknya langsung memutar kejadian itu, di mana dia sedang bermain bola di lapangan lalu mendengar suara ‘grobyak’ yang sangat keras. Saat dia menoleh, dia melihat seseorang jatuh ke selokan bersama sepedanya.
Saat itu dia langsung berlari menolongnya di saat teman-temannya malah menertawakannya.
Januar ingat saat itu dia membelikan cewek asing sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu setelah mengetahui kalau cewek itu jatuh karena terus menatap abang penjual jepit rambut sampai tidak melihat jalanan di depannya.
Dia melakukan itu untuk membuat cewek itu berhenti menangis. Lalu, dia mengantarkan cewek itu ke rumah kakek-neneknya yang ternyata berada tepat di depan rumahnya.
Dia ingat cewek itu bernama Feby. Sayangnya, waktu yang terus berjalan membuatnya lupa dengan wajah cewek itu. Ingatan tentang bagaimana wajah cantiknya perlahan mengabur.
Dari banyaknya plot twist yang terjadi dalam hidupnya, Januar tidak menyangka kalau ini akan menjadi salah satunya.
Dia pikir dia tidak akan bertemu Feby lagi mengingat Feby ke rumah kakek-neneknya hanya untuk liburan saja dan beberapa tahun kemudian neneknya meninggal lalu disusul kakeknya tidak lama setelah itu, membuat Feby tidak ada alasan untuk berkunjung ke sana lagi.
Dia tidak tahu kalau selama ini dia sudah bertemu cewek itu lagi, bahkan dekat dengannya.
Perubahan diri Feby dari anak-anak menjadi remaja membuat Januar sulit mengenalinya. Apalagi mereka hanya bertemu sekali. Wajar jika sosok Feby tidak begitu melekat di ingatannya.
Pantas saja saat bertemu lagi dengan Feby di saat mereka sudah SMA, Januar merasa familier dengan wajah cewek itu.
Waktu itu dia berpikir mungkin dia merasa familier karena Feby mirip salah satu artis—meskipun dia tidak tahu artis siapa—mengingat betapa cantiknya cewek itu. Dia tidak mengira kalau sebelumnya dia sudah pernah bertemu dengan cewek itu.
Sambil mengingat kejadian waktu itu, tatapan Januar terus mengarah pada Feby. Hal itu membuat Feby merasa tidak nyaman. Dia jadi salah tingkah sendiri di tempatnya.