PDKT sama Maretta, jadiannya sama Feby.
Meski tahu Januar menyukai cewek lain, tapi Feby tidak menyerah untuk membuat lelaki itu menyukainya. Dia melakukan segala cara untuk menarik perhatian Januar. Namun, sekeras apapun Feby berusaha, dia akan sel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Tumben lo ngajak gue ketemu di luar, ada apa?” tanya Januar heran dengan menatap cewek di depannya disertai kerutan dahi, karena selama ini Feby hampir tidak pernah mengajaknya bertemu di suatu tempat secara khusus.
Bukannya Feby tidak mau melakukan itu, dia hanya takut mendapat penolakan dari Januar.
Hari ini tiba-tiba saja Feby mengajak Januar bertemu di coffee shop dekat apartemen.
Januar pun menyanggupinya. Dia tidak keberatan sama sekali karena dia suka saat Feby mau menghabiskan waktu dengannya lagi setelah semingguan ini cewek itu menghindarinya.
“Aku mau putus sama kamu. Aku rasa hubungan kita lebih baik berakhir di sini daripada diterusin kalau akhirnya sia-sia.”
Ya, lebih baik hubungan mereka berakhir sekarang karena Feby sudah tidak berniat melanjutkan hukumannya yang ingin menahan Januar dalam hubungan mereka.
Dia sudah memikirkannya kemarin dan dia memutuskan untuk membebaskan Januar lebih cepat dari rencananya sebelumnya.
Dia berpikir tidak ada untungnya juga menahan Januar lebih lama lagi karena hal itu malah membuatnya harus terus berdekatan dengan cowok itu dan berakhir menyulitkan usahanya sendiri untuk menghilangkan perasaannya pada cowok itu.
Januar terkejut mendengar ucapan Feby. Dulu dia sangat ingin mendengar kata-kata itu, tapi sekarang tidak. Sekarang dia malah berharap Feby tidak akan pernah mengucapkannya karena kehilangan cewek itu menjadi ketakutan terbesarnya saat ini.
“Apa ini masih karena gue yang nurunin lo di pinggir jalan? Kalau iya, gue minta maaf untuk itu. Gue akan pastiin kalau itu yang terakhir, tapi gue juga pengin lo pikirin ulang permintaan lo itu.”
“Salah satunya emang karena itu, tapi alasan utamanya bukan itu.”
“Terus, apa yang buat lo pengin putus dari gue?”
“Karena aku pengin bebasin kamu pilih apa yang kamu mau. Aku mau berhenti bersikap egois. Aku tahu, kok, kalau sebenarnya bukan aku yang kamu pilih, tapi Maretta. Kamu nembak aku karena dare dari Elgar kan?”
“Lo... Tahu dari mana?” tanya Januar terkejut.
“Dari sumber terpercaya yang nggak mungkin salah karena dia nunjukin langsung rekamannya dan aku tahu betul kalau itu suara kamu sama Maretta.
“Aku udah tahu semuanya. Mulai dari alasan kamu nembak aku sampai janji kamu sama Maretta kalau kamu akan bikin aku mutusin kamu secepatnya.
"Sekarang aku wujudin keinginan kamu. Kamu bebas jalin hubungan sama cewek pilihan kamu. Maaf kalau selama ini aku jadi penghalang dalam hubungan kalian.”
“Sial! Jangan-jangan...” batin Januar yang mulai mengeluarkan dugaan tentang siapa yang kemungkinan merekamnya dan memberikan rekaman itu pada Feby.
“Lo tahu dari akun gosip sekolah?”
Januar menebak seperti itu karena dia sempat membuka pesan dari akun gosip sekolah, tapi dia mengabaikannya karena dia tidak mau memuaskan pemilik akun itu yang berniat memerasnya.
“Iya. Kamu nggak mau kasih dia uang tutup mulut jadi dia kirim rekaman itu ke aku.” Feby mengedikkan bahu.
Januar menarik nafas panjang sebelum membuat pengakuan. “Oke, gue akui alasan gue nembak lo emang karena dare dari Elgar. Gue juga berharap lo cepat mutusin gue karena yang lo bilang barusan benar, gue pengin berhubungan sama Maretta.
"Tapi, makin ke sini gue makin bingung sama diri gue sendiri. Gue yakin kalau gue nggak ada rasa sama lo, tapi anehnya gue cemburu tiap lo dekat sama cowok lain. Gue nggak suka posisi gue ditempati cowok lain karena gue berharap cuma gue yang bisa bikin lo nyaman, meskipun itu nggak mungkin karena nyatanya gue malah bikin lo terluka dengan kedekatan gue sama Maretta.
“Tanpa gue sadari perasaan gue udah berubah. Perasaan gue yang gue pikir udah mentok sama Maretta ternyata salah. Lo bikin gue merasakan perasaan yang lebih besar dan mendominasi dibanding perasaan gue ke Maretta yang mulai gue pertanyakan keberadaannya.
"Gue udah nggak terlalu peduli sama hubungan gue sama Maretta. Fokus gue sekarang ke lo. Gue pengin lo maafin gue atas keberengsekan gue yang udah bikin lo marah sampai berhari-hari.
“Jujur, gue nggak suka lo diemin. Meskipun cukup annoying, tapi gue lebih suka lo yang dulu, yang perhatian sama gue dan jadiin gue pusat dunia lo.
"Emang kedengarannya egois dan nggak tahu diri karena gue nggak melakukan hal yang sama ke lo, tapi emang itu yang gue rasain sebagai cowok yang sebelumnya lo prioritasin. Lo berhasil bikin gue merasa kehilangan waktu lo diemin dan hindari gue.
“Dengar lo bilang putus kayak gini sebenarnya udah bukan keinginan gue lagi. Gue malah pengin lo bertahan karena gue takut kehilangan lo.
"Bukannya selama pacaran gue nggak mau jadiin lo satu-satunya, gue cuma nggak tahu gimana caranya menyudahi hubungan gue sama Maretta. Gue pengin berhenti bikin lo marah dengan jauhi dia, sayangnya gue nggak tega. Gue udah ngasih banyak janji ke dia, janji yang sekarang rasanya sulit buat gue tepati. Gue emang bodoh. Nggak seharusnya gue main perasaan.
“Beberapa minggu ini gue bimbang karena perasaan gue sendiri. Gue tahu keberadaan lo berhasil mempengaruhi gue dan mengubah perasaan gue yang tadinya buat Maretta jadi buat lo, tapi gue masih sulit percaya perasaan gue bisa berubah secepat itu. Makanya, gue masih denial.
"Hal itu malah bikin gue jadi kayak playboy yang punya dua cewek, tapi sebenarnya gue nggak niat duain kalian. Gue tetap dekat sama Maretta di saat kita udah pacaran karena gue pengin lo nyerah. Sementara gue dekat sama lo itu karena keinginan hati gue sendiri. Gue nggak bisa nahan diri gue buat ngelakuin peran gue sebagai pacar lo.
“Sekarang gue yakin kalau perasaan gue emang buat lo. Jadi, gue harap lo mau pikirin lagi keputusan lo. Gue juga janji akan lebih tegas sama perasaan gue. Gue akan jauhi Maretta dan jadiin lo satu-satunya.”
Januar menatap lurus pada bola mata Feby saat mengakui perasaannya itu. Terpancar tatapan sungguh-sungguh, putus asa, sekaligus memohon di matanya. Ini baru pertama kalinya Feby melihatnya seperti itu.
Feby menggeleng, tidak bisa menerima permintaan Januar untuk memikirkan ulang keputusannya.
“Kamu bilang kalau kamu sekarang yakin dengan perasaan kamu, tapi aku yang nggak yakin. Perasaan kamu bisa berubah semudah itu. Itu yang malah buat aku ragu. Mungkin perasaan kamu buat aku bukan cinta ataupun sayang, tapi cuma rasa bersalah.
“Maaf aku nggak akan mikirin ulang keputusanku. Aku rasa keputusanku udah benar. Aku juga berubah pikiran soal keinginanku buat jadi pacar kamu. Aku emang suka sama kamu, tapi bukan cowok kayak kamu yang aku harapin buat jadi pasangan aku. Aku butuh cowok yang bisa memperlakukan aku dengan baik.
“Lebih baik kamu pahami perasaan kamu dulu, sebenarnya perasaan kamu buat siapa sebelum kamu jalin hubungan lagi, biar hal kayak gini nggak terulang lagi. Nggak adil buat pacar kamu selanjutnya kalau kamu masih bingung sama perasaan kamu dan masih terbayang-bayang masa lalu.”