PDKT sama Maretta, jadiannya sama Feby.
Meski tahu Januar menyukai cewek lain, tapi Feby tidak menyerah untuk membuat lelaki itu menyukainya. Dia melakukan segala cara untuk menarik perhatian Januar. Namun, sekeras apapun Feby berusaha, dia akan sel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Nih, gue bawain oleh-oleh dari Flores.”
Januar menyerahkan dua kantong paperbag besar yang sejak tadi dia bawa pada Feby.
“Kamu habis dari Flores?”
“Iya. Udah dari 4 hari yang lalu.”
Feby merutuki dirinya sendiri yang sudah repot-repot overthinking dengan berpikir kalau Januar tidak muncul di hadapannya dan tidak membalas pesannya karena sedang menghindarinya setelah salah paham waktu itu. Namun, ternyata cowok itu malah dari Flores.
“Ngapain ke sana?”
“Nemenin om cek kebun kopi. Beliau berniat memperluas lahannya.”
Feby manggut-manggut mendengarnya. Dia tahu kalau Januar saat ini bekerja di perusahaan milik omnya. Informasi itu dia ketahui setelah cowok itu memberikannya parsel kopi beberapa bulan lalu.
“Tapi, ini banyak banget oleh-olehnya.”
Feby memperhatikan paperbag yang dia letakkan di bawah. Ada tas anyaman, makanan khas Flores seperti kue rambut dan dodol rumput laut, sampai bubuk kopi.
“Itu sekalian buat calon mertua gue.”
“Siapa calon mertua kamu?” pancing Feby meskipun dia sudah tahu jawaban seperti apa yang akan Januar berikan.
“Orang tua lo,” jawab Januar santai seolah yang dia katakan itu adalah sebuah fakta.
“Sejak kapan orang tuaku jadi calon mertua kamu?”
“Sejak gue memutuskan buat jadiin lo tujuan hidup gue.” Januar menatap Feby serius agar Feby yakin dengan ucapannya.
“Apaan, sih.” Feby tertawa untuk menutupi salah tingkahnya karena ucapan Januar.
“Ye... malah ketawa,” batin Januar sebal. Feby pasti tidak menganggap serius ucapannya.
“Gue dengar berita tentang lo. Lo... Nggak apa-apa kan?” tanya Januar hati-hati.
Feby mengangguk mantap. “Aku nggak apa-apa, kok.”
“Gue punya kenalan pengacara hebat kalau lo berniat ngelaporin masalah ini ke polisi.”
“Nggak. Aku cuma pengin namaku kembali bersih aja.”
“Tapi--”
“Aku nggak pengin masalah ini makin panjang. Sekarang aja banyak yang nganggap kalau apa yang menimpaku ini cuma gimmick dan semua ini cuma drama buat naikin popularitasku. Aku nggak pengin terkenal karena masalah ini. Aku pengin orang-orang kenal aku karena prestasiku sebagai model,” potong Feby. Wajahnya berubah sendu, sedangkan tatapannya menerawang saat mengatakannya.
Januar manggut-manggut, paham. Dia meraih tangan Feby dan menggenggamnya. “Kalau butuh bantuan apa-apa, bilang aja ke gue. Gue pasti bakal bantu.”
Feby mengangguk kaku, terlalu terkejut dengan tindakan Januar. Matanya menatap tangannya sendiri yang sedang berada dalam genggaman Januar. Jantungnya berdebar kuat. Ternyata pengaruh Januar masih sekuat dulu terhadap dirinya.